Minggu, 04 Januari 2026

Tentang Percaya dan Tenang yang Datang Perlahan

Oh…
jadi begini rasanya mempercayakan diri pada seseorang.

Bukan dengan janji.
Bukan dengan kepastian yang dipaksa.
Tapi dengan rasa tenang yang tumbuh pelan-pelan,
tanpa suara gaduh di kepala.

Hari ini aku tidak mengejar.
Tidak menahan.
Tidak sibuk bertanya apakah aku cukup.

Aku hanya hadir.
Dan anehnya, ketika aku tidak lagi menarik,
dia datang sendiri.

Mengantar pulang.
Bercerita tentang kerja, tentang hal-hal yang sedang ia hadapi.
Obrolan mengalir, tanpa aku harus mengatur arahnya.

Rasanya ingin bertemu lagi.
Bukan karena takut kehilangan,
tapi karena kebersamaan itu terasa ringan.

Aku baru paham sekarang—
menahan diri ternyata bukan berarti menjauh.
Justru di sanalah ruang tercipta,
agar kehadiran tidak terasa menyesakkan.

Ada hari-hari ketika cinta terasa seperti perjuangan.
Ada juga hari seperti ini,
ketika cinta hanya terasa… tenang.

Tidak ada ketakutan dia akan pergi.
Tidak ada dorongan untuk memastikan apa-apa.
Yang ada hanya rasa percaya,
dan tubuh yang akhirnya bisa bernapas.

Aku tidak tahu ke mana semua ini akan berjalan.
Dan untuk pertama kalinya,
aku baik-baik saja dengan ketidaktahuan itu.

Jika suatu hari rasa ini tumbuh menjadi sesuatu yang lebih jauh,
aku ingin ia tumbuh dari tempat yang sehat—
bukan dari cemas,
bukan dari ketakutan ditinggalkan.

Hari ini aku belajar satu hal penting:
mencintai tidak harus selalu keras.
Kadang ia hadir sebagai ketenangan
yang membuat kita tetap menjadi diri sendiri.

Dan itu, ternyata, sudah sangat indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar