Tidak panjang, tidak riuh.
Hanya potongan kata, jeda, dan rasa yang lewat sebentar—lalu berhenti.
Di sana, aku belajar sesuatu yang halus:
bahwa kedekatan tidak selalu datang lewat kalimat lengkap,
dan keinginan tidak selalu ingin ditindaklanjuti.
Ada bahasa tubuh yang muncul lebih dulu,
seolah ingin berkata, “aku ada”,
tanpa harus menjelaskan mengapa atau ke mana.
Dan aku, di sisi lain layar,
belajar hadir tanpa berlari.
Menjawab tanpa menambah.
Mengangguk tanpa menarik.
Ketika percakapan itu akhirnya berhenti,
tidak ada pertengkaran, tidak ada pintu yang dibanting.
Hanya kesepakatan sunyi:
selesaikan yang perlu diselesaikan,
istirahatlah,
biarkan malam melakukan tugasnya.
Aku menyadari—
aku tidak perlu selalu menghidupkan percakapan sendirian.
Tidak perlu memanjangkan yang ingin berhenti.
Tidak perlu mengartikan setiap jeda sebagai kehilangan.
Ada kekuatan dalam kalimat singkat.
Ada keutuhan dalam berhenti tepat waktu.
Malam ini, aku memilih tenang.
Bukan karena tidak ingin,
tetapi karena aku ingin hadir dengan utuh—
untuk diriku sendiri terlebih dahulu.
Dan itu, ternyata, sudah cukup.
Afirmasi (satu kalimat, lembut)
Aku boleh dekat tanpa kehilangan diriku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar