Senin, 19 Januari 2026

Catatan Setelah Seharian Berfikir

Hari ini panjang. Bukan karena banyak langkah, tapi karena banyak logika.

Seharian aku duduk bersama angka, tabel, dan rumus.M etode Hayami.K epala rasanya penuh, tapi anehnya, hatiku tetap ingin belajar.

Pukul 16.00, ada rapat kerja melalui Google Meeting. Di ruang itu, aku menyampaikan hasil refleksi mandiri tentang lembagaku tentang apa yang sudah berjalan, apa yang masih rapuh, dan apa yang perlu dijaga agar tetap bernilai.

Awalnya aku berbicara dengan tenang. Kalimatku tersusun rapi. Nada suaraku stabil.

Lalu, tanpa aku rencanakan, emosiku berubah. Mataku berkaca-kaca. Bukan karena sedih. Bukan karena tertekan. Aku bahkan tidak tahu nama emosi itu apa. Yang aku tahu hanya satu, aku terharu.

Terharu karena menyadari aku sedang bertumbuh. Terharu karena kini aku bisa melihat lebih dalam dan lebih luas, tanpa menyalahkan siapa pun, termasuk diriku sendiri. Terharu karena aku tidak lagi berbicara dari luka, tapi dari pemahaman. 

Malamnya, aku kembali ke angka-angka. Masuk–keluar Zoom dari pukul 20.20 sampai 22.26 WIB. Membahas ulang perhitungan analisis nilai tambah. Menguji logika demi logika. Mengurai ulang apa yang sebelumnya terasa rumit.

Di sela kelelahan itu, muncul satu perasaan yang sangat manusiawi, aku kangen.

Bukan kangen yang ribut. Bukan yang menuntut. Hanya rasa ingin dipeluk setelah otak bekerja terlalu lama.

Aku menyadarinya, lalu menarik napas panjang. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak langsung mencari ke mana rasa itu harus disalurkan.

Aku memilih menunda. Bukan karena menekan diri, tapi karena tahu-aku sedang lelah, dan lelah tidak selalu perlu jawaban dari orang lain.

Hari ini aku bersyukur. Bersyukur masih diberi ruang untuk belajar. Bersyukur bisa berdiskusi, meski melelahkan. Bersyukur pada Bu Eka, yang dengan sabar menemani prosesku memahami ulang hitungan demi hitungan.

Aku belajar satu hal lagi hari ini, kedewasaan bukan tentang tidak rindu, tapi tentang tahu kapan rindu perlu dipeluk oleh diri sendiri dulu.

Malam ini aku memilih istirahat. Menyimpan rasa hangat itu di dada. Dan membiarkannya menjadi tenaga untuk esok hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar