Hari ini rasanya panjang.
Sejak pagi aku duduk di depan layar, membahas revisi perhitungan analisis nilai tambah tesisku.
Metode Hayami.
Logika demi logika.
Angka yang harus ditelusuri ulang, bukan sekadar dihitung.
Kami mulai zoom pukul 08.20.
Berhenti karena batas 40 menit.
Masuk lagi.
Keluar lagi.
Masuk lagi.
Sampai pukul 22.26.
Tubuhku diam, tapi kepalaku bekerja terus.
Kadang aku sadar napasku tertahan terlalu lama, lalu kulepaskan pelan.
Di sela-sela itu, ada rasa lain yang muncul tanpa permisi.
Kangen.
Setelah lelah berpikir, rasanya ingin dipeluk.
Ingin ada satu chat sederhana yang masuk.
Tidak perlu panjang.
Hanya tanda hadir.
Aku menarik napas panjang.
Hmm.
Sore harinya, pukul 16.00, ada rapat kerja lewat Google Meeting.
Aku menyampaikan hasil refleksi mandiri tentang lembagaku.
Tentang hal-hal yang selama ini kupikirkan sendiri, lalu akhirnya berani kuucapkan.
Awalnya suaraku tenang.
Lalu aku menyadari sesuatu berubah.
Mataku berkaca-kaca.
Bukan karena sedih.
Bukan juga karena ingin dipahami siapa pun.
Aku tidak tahu nama emosi ini apa.
Mungkin campuran lelah, syukur, dan kesadaran pelan bahwa aku sedang bertumbuh.
Bahwa aku mulai bisa melihat lebih dalam.
Dan entah bagaimana, juga lebih luas.
Aku tetap menyelesaikan rapat itu.
Tidak dramatis.
Tidak berlebihan.
Setelahnya, rasa kangen kembali datang.
Ingin memeluk.
Ingin mengirim chat.
Tapi nanti sajalah.
Hari ini aku memilih tidak mengejar.
Aku memilih duduk bersama rasa ini tanpa harus mengarahkannya ke siapa pun.
Aku bersyukur.
Bersyukur bisa belajar lagi.
Bersyukur bisa zoom, meski melelahkan.
Bersyukur karena aku masih mau tinggal dan hadir di prosesku sendiri.
Terima kasih, Bu Eka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar