Jumat, 09 Januari 2026

Duduk, Mendengar, dan Tidak Selalu Harus Bergegas

 


Aku datang ke kantor Hutan Kita Institute (HaKi) tanggal 6 Januari 2026 dengan niat yang sederhana. Aku ingin bertanya tentang pendekatan untuk Bukit Pendape. Tapi aku tahu, kalau aku datang hanya membawa kepala yang penuh rencana, aku mungkin tidak benar-benar hadir.

Aku memilih merujak bersama.

Setelah itu, aku ngopi dengan Kak Heni di rumah Campus. Tidak ada meja rapat. Tidak ada catatan. Tidak ada target diskusi. Hanya kopi, jeda, dan percakapan yang mengalir pelan. Dan justru di situ, banyak hal masuk ke dalam diriku tanpa perlu dipaksa.

Aku tidak bertanya untuk mencari rumus. Aku ingin mendengar cerita.

Dari ceritanya, aku belajar bahwa kerja pendampingan komunitas bukan tentang cepat atau rapi. Banyak proses berjalan lama, berulang, bahkan terasa mundur. Ada masa ketika usaha yang dilakukan tidak langsung terlihat hasilnya. Ada lelah yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tanda kegagalan.

Aku sadar, orang-orang yang bertahan lama di kerja komunitas biasanya tidak sedang mengejar perubahan besar yang instan. Mereka menjaga ritme. Mereka tahu kapan harus bergerak, kapan menunggu, dan kapan memilih diam. Mereka tidak tergesa-gesa, karena mereka tahu apa yang sedang mereka jaga.

Dan entah kenapa, itu menenangkanku.

Tentang batas, ruang aman, dan merawat diri

Ada beberapa kalimat yang terus terngiang setelah hari itu.

“Harus bisa mengatakan tidak.”
“Perlu membuat batasan diri.”
“Manajemen diri dan waktu yang baik itu penting.”

Kalimat-kalimat ini sederhana, tapi terasa seperti diucapkan tepat ke arahku. Aku mulai menyadari bahwa menjaga diri bukan berarti egois. Justru sebaliknya. Kalau aku ingin bertahan di kerja panjang, aku harus belajar berhenti sebelum lelahku berubah jadi pahit.

Ada juga obrolan tentang ruang.

“Perlu tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas.”
“Kalau bosan di kantor, saya ke kafe, baca buku, atau mengerjakan hal lain.”

Aku tersenyum mendengarnya. Karena ternyata, bekerja dengan sadar itu tidak selalu tentang duduk rapi di meja kerja. Kadang justru hadir di kafe, dengan buku dan kopi, adalah bentuk paling jujur dari merawat fokus.

Tentang rasa sungkan dan keberanian untuk hadir

Di sela-sela cerita, Kak Heni bilang bahwa beberapa orang masih merasa sungkan dengan Bang Adios. Katanya, banyak yang melihat beliau sebagai sosok yang mudah marah. Aku tidak tahu seberapa benar itu. Tapi aku tahu, persepsi saja sudah cukup untuk membuat orang menahan diri. Sejujurnya, aku tidak menganggap itu benar setelah aku banyak berinterkasi dengannya. Penuh kelembutan dan peka terhadap situasi sekitar dengan tindakan.

Di titik itu, aku sadar:
bukan hanya struktur yang membentuk sistem, tapi juga rasa aman.

Secara formal, ruang untuk menyampaikan ide ada. Kak Heni sebenarnya bisa duduk di ruang manajer kampanye, mengusulkan gagasan, berbagi perspektif lapangan. Tapi secara emosional, tidak semua orang merasa aman untuk melakukannya.

Ide tidak selalu berhenti karena tidak ada. Kadang ia berhenti karena takut salah tempat.

Dan aku merasa, ini bukan tentang siapa yang salah. Ini tentang bagaimana kita semua membawa cerita, pengalaman, dan luka kecil ke dalam ruang kerja.

Dari mana kita bergerak

Semakin aku merenung, semakin aku sadar: setiap orang bergerak dari tempat yang berbeda.

Ada yang bergerak dari tanggung jawab dan kewajiban.
Ada yang bergerak dari pengalaman panjang dan kesabaran.
Ada yang bergerak dari pertanyaan dan kegelisahan.
Ada pula yang bergerak dari lelah, hati-hati, dan keinginan untuk aman.

Tidak ada yang salah. Semuanya manusia.

Dan mungkin, perubahan tidak akan pernah lahir dari memaksa semua orang sama. Tapi dari kesediaan untuk saling mengenali dari mana masing-masing bergerak.

Yang akhirnya aku pahami

Hari itu tidak memberiku jawaban tentang Bukit Pendape. Tapi ia memberiku sesuatu yang lebih penting: cara hadir.

Aku belajar bahwa sebelum ingin mengubah sistem, aku perlu belajar duduk di dalamnya. Mendengar tanpa terburu-buru. Menahan keinginan untuk segera merapikan. Mengizinkan proses berjalan pelan.

Tulisan ini aku buat bukan untuk menyimpulkan. Tapi untuk menandai:
aku sedang belajar.

Belajar menjaga ritme.
Belajar membuat batas.
Belajar hadir tanpa harus selalu kuat.

Dan mungkin, di situlah perubahanku—dan perubahan sistem—pelan-pelan dimulai.

Belajar Mendengar Sistem, Bukan Sekadar Menjalankan Peran


Tidak ada komentar:

Posting Komentar