Ada momen kecil yang diam-diam tinggal paling lama di dadaku.
Aku dibawakan roti.
Minum pun sudah disiapkan—Pristine.
Aku langsung teringat, beberapa waktu lalu aku memang sering mem-posting minuman itu.
Dan di situ aku tersenyum kecil, karena rupanya ia memperhatikan hal-hal yang tidak pernah aku minta untuk diingat.
Ia menunggu aku makan.
Tidak terburu-buru.
Tidak sambil bermain ponsel.
Lalu ia bertanya pelan,
“Dek sudah makannya?”
Kalimat sederhana.
Nada biasa.
Tapi entah kenapa, rasanya sangat sampai.
Ia menunjuk tempat di sampingnya, memberi ruang tanpa kata-kata panjang.
Seolah berkata, di sini aman.
Bukan dengan janji, tapi dengan tindakan kecil yang konsisten.
Hari itu aku benar-benar terharu.
Bukan karena roti atau minumannya.
Tapi karena perhatian yang tidak diumumkan.
Karena kepedulian yang tidak dibuat-buat.
Aku menyadari sesuatu:
ada orang yang tidak pandai merangkai kata,
tapi sangat jelas ketika ia hadir.
Dan hari itu, aku merasa dijaga—
tanpa harus meminta.
Tanpa harus menjelaskan kebutuhanku panjang lebar.
Aku betul-betul tersentuh.
Dengan cara yang tenang.
Dengan cara yang membuatku ingin diam sejenak dan bersyukur.
Tentang Pelukan yang Tidak Aku Minta, Tapi Aku Terima dengan Tenang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar