Ada senyum yang tidak datang untuk dipuji.
Ia hadir seperti cahaya pagi, cukup lewat, cukup terlihat, lalu menetap sebentar di dada.
Aku baru sadar, senyum itu tahu ia sedang dilihat.
Bukan kebetulan.
Bukan pantulan yang tak sengaja.
Dan rasanya seperti melihat air tenang
yang tiba-tiba memantulkan langit.
Ada dorongan kecil di dalam diri
untuk berkata sesuatu, bukan untuk mengikat,
hanya ingin menyebutnya indah.
Tapi aku belajar satu hal hari ini bahwa tidak semua bunga harus dipetik agar keindahannya diakui.
Sebagian cukup dibiarkan tumbuh
di tempatnya, sementara kita lewat dengan hati yang hangat.
Diam bukan berarti tidak peduli.
Kadang diam adalah bentuk paling lembut dari menghormati jarak.
Aku membiarkan rasa itu tinggal sebentar, lalu seperti burung yang hinggap di pagar, tanpa pintu dibuka, tanpa jendela ditutup.
Jika ia ingin terbang lagi,
biarlah.
Senyum itu tetap manis,
bahkan tanpa namaku di dalamnya.
Dan aku belajar, kalau kedewasaan bukan tentang mematikan rasa, melainkan tentang tidak menahannya untuk menjadi sesuatu yang lain.
Hari ini, aku tidak mengirim apa pun.
Tapi aku menerima banyak.
— morenoviya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar