Sekayu, 20 Januari 2026 — malam di ruang ternyamanku saat ini
Malam ini sunyi dengan caranya sendiri. Bukan sunyi yang kosong, tapi sunyi yang terasa penuh oleh pikiran yang akhirnya berhenti berlari. Aku duduk di ruang ternyamanku, tubuh diam, napas pelan. Setelah hari yang panjang, rasanya seperti baru sekarang aku benar-benar kembali ke dalam diriku.
Ada satu hal yang akhir-akhir ini sering muncul di kepalaku. Bukan dalam bentuk pertanyaan yang keras, tapi seperti bayangan yang lewat perlahan. Aku sering merasa seolah sedang diamati--bukan dengan tatapan yang menuntut, melainkan dari kejauhan. Dan aku bertanya-tanya dalam hati: mungkin melihatku hidup, bergerak, dan baik-baik saja sudah cukup membuatnya lega.
Tidak ada pesan. Tidak ada sapaan. Hanya ruang.
Aku belajar menerima bahwa diam tidak selalu berarti tidak ada rasa. Kadang ia adalah tanda keterbatasan hadir. Kadang ia adalah cara seseorang menjaga dirinya sendiri.
Saat bertemu, sering kali ada banyak ruang sepi. Obrolan pendek. Waktu yang terasa terlalu cepat habis. Dan setelah itu, selalu ada rasa yang sama: aku senang--tapi juga merasa kurang. Bukan karena aku tidak bersyukur. Melainkan karena kebutuhanku memang belum sepenuhnya terpenuhi. Aku mulai jujur pada diriku sendiri malam ini. Bahwa rindu yang datang bukan sekadar ingin memiliki, tetapi ingin dihadirkan dengan lebih utuh.
Aku belum siap meminta. Belum siap membuka percakapan tentang kejelasan.
Dan itu tidak apa-apa. Malam ini, tugasku bukan menyelesaikan semuanya. Cukup menyadari apa yang sedang kurasakan--tanpa menghakimi. Aku memilih menaruh rindu itu di sampingku. Tidak kugenggam erat. Tidak pula kutolak.
Aku percaya, apa yang ditakdirkan bertumbuh akan menemukan jalannya. Dan apa yang perlu dilepaskan, akan pergi tanpa harus ditarik paksa.
Malam ini aku istirahat. Dengan hati yang lelah tapi jujur. Dengan rindu yang tenang, tidak berisik. Aku masih di sini. Utuh. Belajar pelan-pelan menjadi rumah bagi diriku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar