Tentang Lega, Tangis Syukur, dan Pikiran yang Mulai Luas
Musi Banyuasin, Sumatera Selatan 21.00 WIB
Beberapa hari terakhir, aku merasa sangat ringan. Bukan karena semua urusan selesai..Bukan karena hidup tiba-tiba sempurna.
Tapi karena ada sesuatu di dalam diriku yang tidak lagi berjuang.
Aku mulai bisa duduk tenang dengan pikiranku sendiri. Pelan-pelan mengurai kebingungan. Tidak tergesa-gesa mencari jawaban. Tidak lagi memaksa diri untuk kuat.
Dan anehnya, justru di situ aku merasa lega.
Ada momen-momen kecil ketika aku berkaca, tersenyum, lalu bersyukur. Bukan karena penampilan semata, tapi arena aku merasa hadir sepenuhnya di tubuhku sendiri.
Aku mulai memahami bahwa bertumbuh tidak selalu terasa seperti mendaki. Kadang ia terasa seperti menurunkan bahu, seperti berhenti menahan napas yang terlalu lama.
Belakangan ini, aku sering menangis.. Bukan karena sedih. Tapi karena terharu. Terharu melihat diriku yang tidak lagi bereaksi. Terharu karena akhirnya aku bisa berpikir lebih luas. Melihat relasi, peristiwa, dan diriku sendiri sebagai bagian dari sistem— bukan sebagai kesalahan yang harus diperbaiki.
Aku belajar bahwa tidak semua hal perlu diselesaikan dengan kata-kata. Tidak semua jarak perlu dijelaskan. Dan tidak semua empati harus membuatku tinggal. Ada ketenangan baru yang muncul ketika aku berhenti mengejar pemahaman orang lain, dan mulai menghormati pemahamanku sendiri.
Jika dulu aku sering bertanya apakah aku sudah cukup, hari ini aku lebih sering berkata pelan: Alhamdulillah. Aku baik-baik saja. Dan mungkin, itulah bentuk kedewasaan yang paling sederhana: bisa merasa aman tanpa harus diyakinkan,
bisa bahagia tanpa harus dirayakan, dan bisa tenang tanpa harus dimengerti siapa pun.
Aku tidak sedang sampai ke mana-mana.
Aku hanya sedang pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar