Senin, 12 Januari 2026

Jeruk dan Perhatian

12 September 2025

Hari itu aku senang sekali, aku merengek minta dibelikan sate. Pasalnya pengen makan sate itu sejak lebih dari satu bulan lalu. Tapi, belum kesampaian. Setauku, sate hanya buka malam hari, pun titip adikku, tak pernah sampai sate itu. 
"Pengeen mamam sateee." ucapku manja. 

Pesan masuk di layar telepon genggam "Pakai nasi atau lontong." Aku pun minta dipilihkan, namun aku tetap mendapatkan tawaran untuk menyesuaikan dengan keinginannku. Padahal tak apa, aku akan menerima apa pun yang dibawakan. Tak masalah, lontong atau nasi, yang penting aku makan sate dan itu bukan aku yang beli sendiri. Hehe. 

Hampir satu jam berlalu, aku duduk manis, menatap wajahnya, memerhatikan alat makan yang sudah disiapkannya. Aku makin bersyukur saja dengan sikapnya. Gaes, bagaimana tidak, tanpa diminta, semuanya siap sedia.  "Ini satenya," sambil mengeluarkan sate dari kantong plastik hitam, lalu membuka Ikan Nila goreng kesukaannya. Aku mematung, memerhatikan caranya makan dan merengek minta pula bukain sate itu. 

Selama sekitar tiga puluh menit, berkali-kali agar dibukakan bungkus sate itu. Iya, memang karetnya mudah si, tinggal buka, tapi namanya mau dibukain yaa... Terjadi debat hal seperti itu aja, aku tidak membukanya sampai selesai makan, aku jadi minta nasi dan ikan nilainya karena jujur cukup laper. Aku masih bersikukuh ingin dibukakan sate. Aku berdiri, sedikit kulihat ada plastik berwarna putih. Aku buka untuk memeriksa isinya, isinya ternyata buah. Jeruk. 

Jeruk itu datang begitu saja, tanpa suara, tanpa banyak kata. Hanya berpindah dari tangannya ke atas meja. Sederhana, hening, tapi meninggalkan gema yang dalam. Ia memang bukan tipe yang pandai merangkai kata, kadang malah terlihat bingung bagaimana harus mengungkapkan. Tapi justru di situlah aku belajar membaca isyarat. Membaca tindakannya, bukan sekadar ucapannya.

Beberapa kali berpesan “tolong bawakan adek buah ya, yang segar, yang agak asem.” Kadang aku juga minta bawakan ini itu ketika ke luar kota. Kupikir hanya lewat begitu saja. Tapi ternyata ia menyimpannya. Menyimpannya dalam ingatan, lalu mengeksekusinya dalam bentuk sederhana: sebungkus jeruk yang dibawa tanpa diminta.

Hari itu, jeruk-jeruk itu tiba di tanganku. Aku menatapnya lama. Rasanya seperti menerima hadiah. Bukan sekadar buah, tapi bukti bahwa ada seseorang di luar sana yang memperhatikan detail kecil tentangku. Yang ingat apa yang kusukai, meski tak kuingatkan lagi. Bagi sebagian orang mungkin sepele, tapi bagiku ini istimewa. Karena perhatian itu tidak melulu tentang hal besar, kadang justru hidup di dalam hal kecil yang tulus.

Dua jeruk sudah habis kumakan, manis-asemnya masih menempel di lidahku. Tinggal satu yang tersisa. Aku sengaja menahannya lebih lama, seolah tak rela cepat-cepat kehabisan. Jeruk terakhir itu kini seperti pengingat, bahwa di balik kesederhanaan sebuah buah, ada rasa perhatian yang nyata.

Aku bersyukur. Bangga, bahkan. Karena ternyata aku diingat. Karena ternyata aku diperhatikan. Karena ternyata aku dicintai, bukan lewat seribu kata, tapi lewat satu tindakan.

Dan di antara semua rasa itu, ada satu harapan yang kusimpan diam-diam: semoga kita segera bertemu lagi. Agar aku bisa mengucapkan langsung, dengan tatapan penuh terima kasih, betapa berharganya perhatian kecil itu bagiku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar