Rabu, 07 Januari 2026

Tentang Roti yang Tidak Aku Minta, Tapi Aku Butuhkan

Ada hal-hal kecil yang tidak pernah kita minta dengan suara.
Tapi entah bagaimana, seseorang bisa membacanya.

Malam itu kami bertemu.
Tidak ada rencana besar.
Tidak ada janji apa pun.

Lalu roti itu ada.
Dibawakan.
Disuruh aku bawa pulang.

Dan baru hari ini aku menyadari sesuatu:
mungkin ia tahu, kalau tidak dibawakan, aku akan membeli sendiri.
Seperti kebiasaanku selama ini—mengurus kebutuhan kecilku sendirian.

Roti itu bukan tentang lapar.
Bukan tentang makanan.

Ia tentang seseorang yang memperhatikan pola,
bukan kata-kata.
Tentang kehadiran yang tidak ribut,
tapi tepat sasaran.

Aku tidak diminta menjelaskan.
Tidak ditanya panjang lebar.
Tidak dibuat merasa berutang.

Hanya: “bawa ya.”

Dan entah kenapa, kalimat sesederhana itu membuatku merasa:
— aku diperhitungkan.
— aku diingat.
— aku tidak sendirian mengurus diriku sendiri.

Kadang, perhatian paling dalam memang tidak datang dalam bentuk kalimat manis.
Ia datang dalam roti yang dibawakan,
air yang sudah diisi,
atau hal kecil yang membuat hari terasa lebih ringan.

Hari ini aku bersyukur.
Bukan karena rotinya.
Tapi karena aku merasa dijaga—
tanpa harus meminta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar