Sabtu, 25 Oktober 2025

Terima kasih sudah Berusaha

Padahal, aku sudah mengetik pesan ini:
Ay, terima kasih sudah bekerja keras hari ini. Semangat terus...”

Niatnya sederhana, aku hanya ingin memberi dukungan, sedikit hangat di sela lelahnya hari. Aku melihat sendiri, sejak pukul lima sore dia sudah bersiap di tempat, sibuk membuat kopi, mempersiapkan segalanya. Ada rasa kagum yang diam-diam tumbuh, dan aku ingin sekali menunjukkan perhatianku dengan cara yang lembut.

Untung saja, pesan itu belum sempat terkirim.
Kalau saja sudah, mungkin aku akan mempermalukan diriku sendiri.

Siapa sangka, malam inu aku justru pulang dengan hati yang meringis.
Dengan telinga yang masih mengingat jelas satu kata: “bukan.” ketika ditanya tentang orang rumah, berbeda ketika bulan Agustus lalu. 
Hanya satu kata, tapi cukup membuat langkahku berhenti.
Untunglah bukan kata pengusiran, pikirku. Mungkin saja dia risih sebenarnya. 

Meski begitu, aku harus jujur, berada disana membuatku bahagia.
Ada rasa senang yang sederhana, hanya karena bisa melihat wajahnya dari jauh. Kadang, kebahagiaan sesederhana itu saja sudah cukup untuk menenangkan hati yang lelah.

Tapi malam ini aku mulai sadar, sudah saatnya berhenti.
Bukan karena aku menyerah, tapi karena aku harus belajar menerima.

Aku kecewa, tentu saja. Tapi tak apa.
Mungkin ini memang bagian dari caraku belajar mencintai diri sendiri lagi.
Belajar tidak berharap terlalu jauh, belajar membiarkan segala sesuatu berjalan sesuai waktunya.

Terima kasih, ya.
Untuk setiap perasaan yang pernah ada,
untuk setiap senyum yang sempat singgah.
Aku akan menyimpannya baik-baik, bukan sebagai luka,
tapi sebagai pelajaran tentang ketulusan yang pernah aku punya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar