Siapakah yang Aku Cintai Teramat Besar Ini?
Ada hari-hari ketika aku bertanya pada diriku sendiri.
Bukan dengan nada bingung, tapi dengan kejujuran yang pelan:
Siapakah yang sebenarnya aku cintai sedalam ini?
Apakah seseorang?
Atau perasaan yang hadir bersamanya?
Aku menyadari, rasa sayangku tidak lahir dari kata-kata besar.
Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang sering luput disebut:
diperhatikan tanpa diminta,
ditunggu tanpa disuruh,
ditemani tanpa ponsel di tangan.
Aku mencintai karena tubuhku akhirnya tenang.
Karena di dekatnya, aku tidak perlu menjelaskan diriku panjang lebar.
Aku tidak harus bersuara keras agar dianggap ada.
Dan mungkin itulah sebabnya rasa kangennya terasa begitu besar.
Bukan karena aku kekurangan cinta,
melainkan karena aku akhirnya merasakan cinta yang tidak membuatku siaga.
Tentang Rindu yang Datang Diam-Diam
Rindu itu datang tidak mendadak.
Ia menyusup pelan, seperti hangat yang tertinggal di kulit setelah dipeluk.
Aku tidak ingin segera mengirim pesan.
Tidak ingin memastikan apa pun.
Aku hanya duduk bersama rasa itu, membiarkannya bernapas.
Kadang aku tersenyum sendiri.
Kadang mataku memanas.
Kadang aku hanya menarik napas panjang dan berkata dalam hati:
oh, ternyata aku mampu menyayangi sedalam ini.
Rindu ini bukan tuntutan.
Ia bukan permintaan untuk dibalas cepat.
Ia hanya penanda bahwa hatiku sedang hidup.
Mengapa Aku Begitu Menyayanginya?
Karena di dekatnya, aku belajar menahan diri tanpa merasa kehilangan.
Karena aku belajar bahwa cinta tidak selalu perlu diumumkan.
Karena aku belajar bahwa perhatian yang tulus seringkali hadir tanpa suara.
Aku menyayanginya karena aku tidak harus menjadi siapa pun selain diriku.
Tidak perlu lebih ceria.
Tidak perlu lebih kuat.
Tidak perlu lebih “cukup”.
Aku cukup.
Dan Untuk Diriku Sendiri
Aku tidak tahu ke mana rasa ini akan berjalan.
Aku juga tidak ingin mendahuluinya dengan janji atau ketakutan.
Yang aku tahu, hari ini aku mencintai.
Dengan cara yang tenang.
Dengan kesadaran penuh.
Tanpa mengorbankan diriku sendiri.
Dan kalau rindu itu besar,
aku belajar untuk tidak panik.
Aku belajar berkata pada diriku sendiri:
Aku boleh mencinta sedalam ini,
selama aku tetap pulang ke diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar