Ada hari-hari di mana aku terlihat baik-baik saja.
Bekerja, bercakap, tertawa seperlunya.
Tapi di sela-sela itu, ada satu nama yang sering lewat tanpa izin.
Aku kangen.
Bukan kangen yang ribut, bukan yang dramatis.
Kangen yang diam-diam duduk di sudut dada, lalu menatapku lama.
Kadang aku ingin bertanya:
“Apa kamu juga merasa begini?”
Tapi aku tahu, pertanyaan itu tidak selalu perlu disuarakan.
Yang aku tahu, aku rindu.
Rindu bertemu, tanpa agenda.
Rindu duduk bersebelahan, tanpa perlu banyak bicara.
Rindu pelukan yang tidak menyelesaikan apa-apa,
tapi entah kenapa selalu membuat segalanya terasa cukup.
Aku tidak ingin mengejar.
Aku juga tidak ingin menyangkal.
Jadi aku memilih melakukan satu hal kecil yang bisa kulakukan hari ini:
mengakui perasaanku pada diriku sendiri.
Bahwa ada seseorang yang ramai di hari-hariku.
Bahwa rindu ini nyata, meski tak selalu harus sampai ke tujuan.
Bahwa ingin memeluk tidak selalu berarti harus memiliki.
Kalau suatu hari kami bertemu,
aku ingin datang sebagai diriku yang utuh,
bukan sebagai seseorang yang kehabisan napas karena menunggu.
Dan kalau hari itu belum tiba,
aku akan tetap hidup, tetap berjalan,
sambil membawa rindu ini dengan lembut.
Tidak ditekan.
Tidak dibuang.
Hanya dipeluk dari dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar