Senin, 13 Oktober 2025

Tenang yang Menguatkan dari Desa Keban 1

Desa Keban 1, Sanga Desa, Musi Banyuasin. 
Pagi itu kami berangkat karena akan menyelesaikan suatu tugas. Tapi yang kutemui bukan hanya perjalanan panjang di jalan aspal atau tanah, melainkan rasa tenang di sepanjang langkah. Desa Keban satu bisa dituju dari Desa Keban 2 menggunakan kapal air. Ada tempat penyebrangan sungai disana. Kami menggunakan kendaraan roda dua untuk menunjang aktivitas kami.

Sepanjang perjalanan, kami bicara tentang banyak hal. Tentang arah, tentang masa depan, tentang cara melihat hidup dengan lebih sabar.
Ia bukan banyak bicara, tapi setiap ucapannya seperti menenangkan.

Sampai suatu momen, ku pikir tentu tidak disengaja, kami terjatuh, jembatan naik ke perahu tipis. Papan kayu itu bersambung dan membuat kami oleng. Sebenenanrnya, aku merengek ingin turun si ya, tapi karena aku percaya, akhirnya aku manut dan mengikutinya. 
Jaket dan tanganku kotor, tapi yang paling kuingat, tangan itu dengan tenang membersihkan kotornya tangan dan jaketku, mencucinya dan memastikan aku baik-baik saja.

Momen itu terasa begitu manis. Aku bahkan menulisnya begini: itu adalah perlakuan paling manis dalam sejarah perjalananku pergi-pergi.

Momen itu juga membawaku kembali ke masa kecil  ketika aku menangis karena pelipis kepala tertusuk kayu saat mencoba mengambil jambu air bersama sepupuku.
Ayah datang dengan tenang, menggendongku, membersihkan lukaku, dan berkata pelan,
“sudah, tidak apa-apa.”

Mungkin karena itu, aku selalu merasa tenang jika ada seseorang yang menenangkan tanpa harus banyak bicara.
Rasa aman itu, sederhana… tapi berharga.
Kadang, bukan tindakan besar yang menyentuh hati, tapi cara seseorang membuatmu merasa aman tanpa banyak kata.

Dari perjalanan itu aku belajar,
tenang adalah kekuatan.
Dan sabar… selalu punya cara untuk menguatkan.
Terima kasih ya, Ay. 
Aku selalu cerita sama orang di rumah bahwa klo misalnya aku diajak pergi, aku akan bilang "Aku mau."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar