Ada masa di mana kita sibuk mencintai orang lain.
Sibuk membahagiakan orang lain.
Sampai lupa, ada satu orang yang belum kita bahagiakan: diri sendiri.
Saya juga begitu.
Selalu ingin memberi, sampai lupa menenangkan hati sendiri.
Sampai akhirnya, waktu memaksa saya berhenti.
Satu bulan waktu itu aneh.
Terasa pendek, tapi penuh makna.
Ada tawa, ada harapan, ada juga diam yang panjang.
Saya bertemu seseorang yang membuat saya belajar banyak hal.
Tentang tanggung jawab, tentang kesungguhan, dan tentang cara mencintai yang tidak selalu harus memiliki.
Dia anak pertama.
Tanggung jawabnya besar.
Tiga adik menatap ke arahnya setiap hari.
Dia tidak banyak bicara, tapi tindakannya terasa.
Dia bekerja keras, bahkan untuk hal-hal kecil yang mungkin saya minta tanpa sadar.
Saya tahu itu tidak mudah.
Dan saya menghargainya.
Terima kasih sudah berusaha, bahkan ketika lelah.
Sekarang, saya ingin berkata sederhana saja:
Terima kasih untuk satu bulan penuh makna.
Untuk waktu yang menyentuh hati saya.
Untuk usaha yang tidak pernah saya minta tapi diberikan juga.
Saya belajar sesuatu.
Bahwa cinta tidak selalu berarti bersama.
Kadang, cinta berarti berani melangkah sendirian dengan hati yang tenang.
Saya ingin jatuh cinta lagi.
Kali ini, pada diri sendiri.
Karena dari situ semua akan tumbuh lagi — perlahan, tapi pasti.
See you di waktu terbaik, Ay.
Entah kapan.
Tapi saya percaya, semesta punya caranya sendiri mempertemukan dua orang yang sudah selesai dengan lukanya masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar