Kamis, 19 Maret 2026

Titik di Ujung Ramadan "Sebuah Monolog tentang Kepulangan"


Layar ponselku menyala di pada pukul 21.49 WIB. Sebuah nama muncul, membawa pesan yang sangat terukur, "Mat berlebaran az, maaf lahir bhatin."

​Aku terdiam sejenak. Jika ini adalah diriku beberapa bulan lalu, sistem sarafku pasti sudah melakukan 'akrobat'. Jantungku mungkin berdebar, jariku mungkin gemetar menimbang-nimbang balasan apa yang paling bisa menarik perhatiannya kembali. Amigdalaku pasti sedang sibuk memproses prediction error: "Kenapa cuma begini? Kenapa setelah menghilang, dia kembali dengan formalitas?"

​Bahkan tadi, ada suara kecil di kepalaku yang sempat berbisik nakal,"Bilang saja kamu marah, Novi. Kasih tahu dia kalau jempol dan 'Hmm'-nya tempo hari itu menyakitkan.

​Tapi kemudian, aku melakukan Presencing. Aku mengamati suara itu sebagai seorang Convener, bukan sebagai korbannya.

​Aku menyadari bahwa kemarahan adalah energi yang sangat mahal. Marah berarti aku masih memberinya tempat di "kursi utama" hidupku. Marah berarti aku masih mengharapkan dia berubah. Dan Theory U mengajariku satu hal penting bahwa kita tidak bisa memaksa ekosistem berubah jika akarnya sudah tidak lagi bernapas.

​Aku melihat kembali perjalananku di usia 28 ini. Aku melihat Skycoco yang sedang butuh fokusku, PUKL yang butuh visiku, dan tesis S2 yang butuh ketajaman pikiranku. Di usiaku yang "bukan waktu main-main" ini, aku menyadari bahwa kedaulatan batin adalah aset terbesarku.

​Maka, aku memilih untuk tidak drama. Aku memilih untuk tidak mengirim paragraf panjang penuh protes. Aku memilih untuk melepaskan peran "Adek yang sedang marah" dan memakai mahkota "Perempuan yang sudah selesai".

​Aku mengetik balasan, "Iya Bang. Sama-sama ya. Maaf lahir bhatin jg."

​Sebuah balasan yang sangat sopan, namun sangat berjarak. Ini adalah cara batiniahku untuk mengatakan bahwa"Pintunya masih terbuka untuk maaf, tapi kuncinya sudah kumatikan untuk akses emosional." Saat aku menekan tombol kirim, aku merasakan sebuah penutupan yang sangat damai. Bukan karena dia membalas, tapi karena aku berhasil memenangkan kendali atas diriku sendiri.

​Jika 20 tahun lagi aku membaca tulisan ini, aku ingin kamu tersenyum.

​Jangan pernah menyesali hari ini. Jangan menyesal karena kamu tidak "mengejarnya". Jangan menyesal karena kamu memilih untuk tidak berisik. Di tahun 2026 ini, kamu sedang belajar bahwa ketidakhadiranmu (absence) yang damai adalah pernyataan paling kuat yang pernah kamu buat.

​Malam ini, di bawah langit Ramadan yang tenang, aku tidak hanya memaafkan dia. Aku memaafkan diriku sendiri yang pernah merasa tidak cukup. Aku memaafkan egoku yang pernah ingin divalidasi oleh orang yang unavailable.

​Aku pulang pada diriku sendiri. Dan rasanya... sangat lapang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar