Ada desiran halus di dada saya beberapa detik sebelum menekan tombol 'Apply Background' di ruang Zoom siang itu. Di layar, sudah berkumpul tokoh-tokoh hebat nasional dan teman-teman seperjalanan dalam momen kelulusan Youth Action Forum (YAF) 5.0.
Awalnya, ada suara kecil yang berbisik: "Yakin mau pakai background ini? Nggak pede, rasanya terlalu mencolok." Namun, saya memilih untuk mengambil jeda sejenak. Saya menyadari bahwa rasa tidak percaya diri itu hanyalah alarm dari sistem pertahanan lama saya yang terbiasa bersembunyi. Hari ini, saya memutuskan untuk tidak lagi mendengarkan alarm itu. Dengan satu tarikan napas, saya menyalakan kamera. Di belakang wajah saya, terpampang jelas gambar produk rintisan saya: Skycoco.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya gambar cup berisi nata de coco dengan latar langit biru. Tapi bagi saya, memajang gambar itu adalah sebuah deklarasi kedaulatan batin.
Saya memajangnya karena saya ingin mengakui pada diri saya sendiri: Ini buatan saya. Ini adalah karya yang berhasil saya bawa dan wujudkan dengan kedua tangan saya. Setelah sekian lama bergulat dengan perasaan tidak layak, hari ini saya mengizinkan diri saya untuk merayakan kapasitas saya sendiri. Saya tidak lagi menunggu divalidasi; saya memvalidasi diri saya sendiri.
Ada dua filosofi mendalam mengapa gambar ini yang menemani kelulusan saya.
Pertama, nama Skycoco adalah singkatan dari Sekayu Nata de Coco. Melalui gambar ini, saya sedang membawa akar, identitas, dan kebanggaan daerah asal saya, Musi Banyuasin, ke forum yang lebih luas. Ini adalah pengingat bahwa kepemimpinan yang berdampak selalu dimulai dari kepedulian kita pada ekosistem terdekat, pada komoditas lokal yang menghidupi masyarakatnya.
Kedua, tekstur nata de coco yang putih dan jernih itu merepresentasikan kondisi batin saya hari ini. Setelah melewati berbagai fase membongkar 'gunung es' di dalam diri—melepaskan cangkang ketangguhan palsu, memeluk kerentanan, dan menyeka air mata—batin saya kini terasa jauh lebih lapang. Warna putih jernih itu adalah manifestasi dari niat saya ke depan: ingin melangkah memimpin dengan niat yang murni, transparan, tanpa agenda yang disembunyikan, dan sudi mendengar lebih jernih.
Melihat wajah saya bersanding dengan Skycoco di layar virtual tadi, ada rasa penuh yang sulit dilukiskan. Saya tidak hanya lulus dari sebuah program kepemimpinan. Saya lulus menjadi manusia yang lebih utuh.
Terima kasih, Sekayu. Terima kasih, Skycoco. Mari kita mulai melangkah dengan niat yang sejernih ini.
— morenoviya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar