Pernah nggak sih, ngerasa capek yang luar biasa pekat, padahal seharian badan cuma duduk diam? Rasanya bukan tulang atau otot yang remuk, tapi sistem saraf yang aus—sebuah tumpukan beban Allostatic yang diam-diam menguras habis semua energi dari dalam.
Buat jiwa yang terbiasa jadi penggerak, yang selalu jadi tiang penyangga buat ekosistem di sekitarnya, ada semacam tuntutan tak kasatmata untuk selalu tampil tak terkalahkan. Tanpa sadar, jauh di dasar gunung es batin ini, ada keyakinan yang diam-diam mengakar: "Kalau aku nggak buru-buru ngejelasin niatku, orang bakal salah paham. Kalau aku nggak kelihatan tangguh, keberadaanku nggak akan dihargai."
Ketakutan untuk 'tidak dihargai' inilah yang ternyata bikin alarm di kepala nyala terus-terusan. Otak kita membaca interaksi sosial yang nggak sejalan sebagai sebuah 'ancaman'. Reaksi otomatisnya? Kita langsung pasang badan. Defensif. Buru-buru nyusun ribuan kata klarifikasi cuma buat mastiin dunia paham niat baik kita.
Fisik kita mungkin diam menatap layar, tapi sistem saraf kita sebenarnya lagi lari maraton buat mempertahankan ego dan mencari aman. Pantesan aja rasanya lelah banget. Ternyata, bertindak sebagai 'si pemecah masalah' dan mengawal persepsi orang lain itu memakan ribuan kalori emosi setiap harinya.
Tapi, malam ini aku belajar satu hal. Gimana kalau penawarnya ternyata sesederhana ini?
Kesembuhan itu dimulai tepat di detik kita berani melepaskan kebutuhan untuk selalu dimengerti oleh semua orang. Kedaulatan batin yang sejati bukanlah kemampuan kita untuk menangkis setiap argumen atau memenangkan perdebatan. Kedaulatan tertinggi justru hadir saat kita berani memeluk diri sendiri di titik paling rapuh, dan berbisik: "Aku capek. Dan malam ini, aku memilih untuk nggak membuktikan apa-apa ke siapa-siapa."
Kita ini manusia, bukan humas yang harus terus-terusan mengklarifikasi segalanya. Biarkan saja mereka dengan asumsi dan tafsirnya masing-masing. Pada akhirnya, satu-satunya rida dan penerimaan yang harus kita tuju hanyalah rida Sang Pencipta—satu-satunya ruang di mana kita selalu diterima seutuhnya, tanpa perlu bersusah payah menjelaskan diri.
Teruntuk diriku yang mungkin suatu hari nanti membaca ulang tulisan ini:
Kalau rasa lelah tanpa sebab itu datang menyergap lagi, tolong dengarkan baik-baik. Itu cuma tubuhmu yang lagi memohon jeda. Letakkan mahkotamu sebentar, turunkan perisai defensifmu, dan bernapaslah dengan tenang. Percayalah, dunia nggak akan runtuh cuma karena kamu memilih untuk diam dan berhenti jadi 'si paling kuat' malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar