Hari ini aku menangis.
Awalnya bukan karena dia. Lucunya, bukan juga karena percakapan terakhir kami. Aku sedang melihat konten orang berbagi sesuatu di suatu platform media sosial. Entah kenapa, tiba-tiba mataku panas. Lalu air mata keluar begitu saja.
Dan di tengah tangisan itu… aku sadar sesuatu.
Aku kangen.
Bukan kangen yang panik. Bukan juga kangen yang membuatku ingin mengejar. Hanya kangen yang jujur.
Aku ingat terakhir kali menangis seperti ini sekitar tahun 2018. Rasanya jauh sekali. Seolah ada ruang dalam diriku yang lama tidak tersentuh, lalu tiba-tiba terbuka.
Tangisan itu datang sebentar, tapi rasanya membersihkan sesuatu di dalam dada. Aneh ya. Kadang kita tidak menangis karena satu peristiwa besar. Kadang kita menangis karena tubuh kita akhirnya mengizinkan dirinya merasakan semuanya.
Rindu. Lelah. Harapan. Dan sedikit kehilangan.
Aku menyadari satu hal malam ini bahwa rasa kangen tidak selalu berarti kita harus melakukan sesuatu. Kadang ia hanya ingin diakui.
Aku tidak perlu buru-buru mengirim pesan. Tidak perlu mencari tanda bahwa dia juga merasakan hal yang sama.
Aku hanya duduk di kamar, mengusap air mata, lalu tertawa kecil. “Ah, aku kangen ternyata.”
Setelah menangis, dadaku terasa lebih ringan. Seperti setelah hujan kecil yang jatuh tiba-tiba di sore hari. Tidak lama, tapi cukup membuat udara terasa lebih segar.
Rindu itu masih ada. Tapi sekarang rasanya lebih tenang.
Dan aku pikir… tidak apa-apa mencintai seseorang dengan jujur, selama kita juga tetap memeluk diri kita sendiri dengan lembut.
Malam ini aku hanya belajar satu hal sederhana bahwa Kadang yang kita butuhkan bukan jawaban dari orang lain. Kadang yang kita butuhkan hanya ruang untuk menangis sebentar. Lalu bernapas lagi. Dan hidup berjalan pelan seperti biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar