Ada masa ketika aku berdiri di atas sebidang tanah luas di dalam batinku, memegang sebuah cetak biru yang begitu utuh. Aku ingin membangun sebuah Rumah, tempat di mana kehangatan, komitmen, dan rasa aman bisa bernaung di bawah satu atap. Di dalam benakku, rumah ini adalah perwujudan dari Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah. Tempat di mana jiwa yang lelah bisa bersandar dan menemukan ketenangannya (...agar kamu merasa tenteram kepadanya — Q.S. Ar-Rum: 21).
Aku tahu aku memiliki fondasi untuk membangunnya. Tangki empatiku cukup dalam untuk menampung cerita-cerita yang paling sunyi. Aku siap menyusun batu bata itu satu demi satu, dengan kesabaran seorang pengrajin yang memahami bahwa hal-hal indah butuh waktu untuk berdiri.
Namun, cetak biru itu perlahan menunjukkan celah struktural yang fatal ketika aku melihat siapa yang kuajak untuk membangun bersama.
Ia adalah seorang pengembara yang singgah. Ketika aku menyodorkan batu bata komitmen untuk disusun, tangannya gemetar. Ia terbiasa hidup dengan tenda-tenda sementara, melarikan diri kapan saja angin badai tanggung jawab datang. Rumah yang kubayangkan menakutkannya. Baginya, dinding yang kokoh bukanlah perlindungan, melainkan sangkar. Ia hanya menginginkan serambi kecilnya; tempat ia bisa berteduh saat hujan turun dan ia merasa kesepian, namun tetap memiliki kebebasan mutlak untuk pergi tanpa perlu berpamitan.
Di sanalah aku menyadari kaidah kehidupan yang menampar namun menyelamatkan. Sehebat apa pun aku mencoba menyatukan material ini, bangunannya akan selalu rapuh. Aku tidak bisa meminjamkan keberanianku untuk menutupi ketakutannya menetap. Bagaimana mungkin sakinah (ketenteraman) bisa diraih jika fondasinya dibangun di atas ketidakpastian dan rasa takut?
Ketika kesadaran itu mendarat, sebuah kelapangan yang jauh lebih besar tiba-tiba memeluk hatiku. Sebuah pengingat lembut dari langit mengalir di telingaku: "Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 216).
Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang selama ini kelelahan menahan tiang yang miring itu ternyata kini bebas untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih bermakna. Ruang kosong yang ditinggalkan oleh ketidakpastiannya kini bisa kuisi dengan mahakaryaku sendiri. Ada tanggung jawab akademik yang menungguku, ada gagasan-gagasan karya yang siap untuk dihidupkan. Tanpa disadari, melepaskan cengkeraman dari sesuatu yang retak justru memberiku kedua tangan yang utuh untuk merawat kehidupan.
Tentu, ujian belum sepenuhnya usai. Godaan itu mungkin akan muncul di malam-malam yang sepi, ketika sang pengembara kembali melintas di depan gerbang, melempar sapaan singkat sekadar untuk memastikan aku masih menunggunya.
Namun, kali ini aku teringat pada sebuah prinsip penjagaan diri yang sangat tegas."Seorang mukmin tidak akan tersengat dari lubang yang sama dua kali." (H.R. Bukhari dan Muslim). Membiarkan sistem sarafku kembali terkecoh oleh sapaan basa-basi adalah bentuk kezaliman pada diriku sendiri.
Hari ini, aku memilih untuk berdiri tegak di atas balkon observasiku.
Aku melipat kembali cetak biru rumah yang asimetris itu. Aku membiarkan sang pengembara melanjutkan perjalanannya yang entah ke mana, diiringi doa agar ia kelak menemukan kedamaiannya sendiri. Ketiadaan tempatnya di hidupku bukanlah sebuah kegagalan, melainkan cara Semesta menyelamatkanku, memberiku ruang agar aku bisa membangun kerajaanku sendiri, dengan batu bata yang jauh lebih kokoh, dan jiwa yang memancarkan kedaulatan yang sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar