Masih dengan sisa-sisa kelegaan setelah melepas cangkang kerentanan di sesi refleksi tadi, mata saya tertuju pada sebuah pesan di kolom chat Zoom Graduation Workshop YAF 5.0. Di tengah riuhnya layar virtual yang menampilkan wajah-wajah penuh energi, sebuah kalimat melintas dan langsung mengunci perhatian saya:
"Hidup menghadirkan banyak masalah, setiap orang menemuinya dengan cara yang berbeda. Biarkan masalah bersinggungan dengan kita—sebab saat Tuhan memberi masalah, Ia juga sedang memberi kita tanggung jawab."
Saya terdiam sejenak. Menarik napas panjang. Kalimat ini seolah merangkum seluruh badai batin yang saya lewati belakangan ini.
Dulu, saya memiliki mental model bahwa masalah—baik itu kerumitan menyeimbangkan peran sebagai Convener, mahasiswa S2, dan pengusaha Skycoco, maupun rasa sakit akibat sebuah hubungan yang memaksa saya bersembunyi di "ruang gelap"—adalah sebuah ancaman. Sesuatu yang harus ditolak, dihindari, atau buru-buru diselesaikan agar hidup kembali terlihat rapi dan sempurna tanpa celah.
Namun hari ini, sebuah paradoks magis menyapa kesadaran saya. "Biarkan masalah bersinggungan dengan kita." Ternyata, kita memang tidak diminta untuk menjadi kebal. Masalah, kekecewaan, dan segala kerentanan yang mengikutinya adalah sebuah persinggungan yang sengaja diizinkan hadir untuk memperbesar kapasitas wadah batin kita. Ketika semesta mengizinkan saya merasakan lelahnya diberi remah-remah validasi, itu bukanlah sebuah hukuman apalagi kutukan.
Itu adalah sebuah "tanggung jawab" yang dititipkan Tuhan.
Tanggung jawab untuk apa? Tanggung jawab untuk menyadari nilai diri sendiri. Tanggung jawab untuk berani menutup pintu ruang gelap itu dengan tangan saya sendiri. Tanggung jawab untuk melepaskan Ego masa lalu dan bertumbuh menjadi pemimpin yang lebih utuh (Eco). Tuhan memberikan masalah itu karena Ia tahu saya memiliki kapasitas untuk memeluk rasa sakitnya, lalu mengubahnya menjadi kedaulatan.
Tanggung jawab saya sekarang bukanlah memaksa orang lain untuk berubah atau menyembuhkan luka mereka yang tidak ingin disembuhkan. Tanggung jawab saya adalah merawat apa yang Tuhan titipkan di tangan saya saat ini: batin yang waras, tesis yang menunggu diselesaikan, komoditas yang siap diberi nilai tambah melalui Skycoco, dan suara-suara masyarakat di Muba yang perlu didengar secara jernih.
Pesan di kolom obrolan itu menjadi medali kelulusan yang manis hari ini. Hidup akan terus menghadirkan persinggungan-persinggungan baru. Namun mulai hari ini, saya tidak akan lagi menyambutnya dengan cangkang besi ketakutan atau pelarian. Saya akan menyambutnya dengan dada yang lapang, air mata yang tidak perlu disembunyikan, dan telinga yang siap mendengar.
Bismillah, mari kita emban tanggung jawab ini di bawah cahaya.
— morenoviya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar