Sabtu, 14 Maret 2026

LFA dalam Hidupku "Ketika Aku Akhirnya Mencabut Pendanaan untuk Sebuah 'Project Gagal'


Malam Minggu di Sekayu, ditemani kepulan asap teh hangat yang menenangkan. Iseng-iseng, aku membuka galeri foto lama dan mataku tertuju pada sebuah tangkapan layar percakapan dari bulan Februari lalu. Melihatnya sekarang, rasanya seperti sedang menatap sebuah artefak kuno di dalam museum masa laluku sendiri.

​Di layar itu, tertera jelas kontradiksi yang sangat menyolok. Di satu sisi, ada rentetan pesan panjang dariku. Di tengah kelelahan mengolah data tesis S2 Agro Industri, aku masih menyempatkan energi kognitif dan emosional untuk membangun "jembatan komunikasi" yang bermakna. Aku mengangkat topik Logical Framework Approach (LFA) yang pernah kami diskusikan, mencoba mengaitkannya dengan tantangan lapangannya, menyajikan sebuah hidangan obrolan bintang lima yang penuh perhatian dan kecerdasan intelektual.

​Di sisi lain, di waktu yang hampir bersamaan, balasan yang kuterima hanyalah sebuah pesan template generik ucapan Ramadan. Pesan yang sangat aman, minim usaha, dan kemungkinan besar disalin-tempel ke ratusan kontak lainnya. Di dasar gunung es percakapan itu, aku menyadari betapa kerasnya aku memohon koneksi, sementara ia hanya bersedia memberi remah-remah.

​Melihat artefak itu, pikiranku melayang kembali ke momen menyakitkan di Kamar 113. Aku mengingat dengan jelas bagaimana aku tersedu-sedu malam itu karena ia membatalkan janji untuk menengokku. Padahal aku sudah sangat lelah oleh panjangnya hari, namun aku memilih mengabaikan tubuhku yang memohon untuk tidur, demi menunggu seorang yang bahkan enggan melangkahkan kakinya untukku.

​Dulu aku mengira aku menangisi ketidakhadirannya. Namun hari ini, di bawah terang kedaulatanku yang baru, aku sadar tangisan hebat itu pecah karena aku telah mengkhianati diriku sendiri. Aku mengorbankan sesuatu yang nyata (kesejahteraanku), demi sesuatu yang ilusi (kepeduliannya).

​Ironisnya, saat itu aku sedang sangat jago menganalisis proyek lapangan menggunakan Kerangka Kerja Logis (LFA) untuk project Pendape Sense Lab dan tesisku. Namun dalam hidup pribadiku, aku justru terjebak dalam sebuah "project hubungan" yang sama sekali tidak logis. Aku terus menginvestasikan sumber dayaku berupa waktu, pikiran, dan emosi terdalamku kepada seseorang (BJ) yang jelas-jelas tidak memberikan Return of Investment (ROI) apa pun selain kelelahan fisik dan batin.

​Hari ini, evaluasi proyek masa lalu itu sudah selesai total.

​Jadi, ketika minggu ini ia mencoba kembali dengan taktik murahan mengirimkan pesan "Hmm, hmm, hmm"—seolah berharap aku akan membangun jembatan emas lagi untuknya—jawabanku adalah kedaulatan yang mutlak. Status "Read" tanpa balasan malam ini adalah keputusan eksekutifku untuk secara resmi mencabut seluruh pendanaan emosional untuk project yang tidak berkelanjutan ini.

​Aku tidak lagi menunggu divalidasi oleh cangkir yang terlalu kecil. Aku telah memvalidasi diriku sendiri di tempat yang paling terang. Kamar 113 itu kini resmi menjadi sejarah, dan aku berhak melangkah maju ke masa depan yang utuh, berdaulat, dan penuh karya yang nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar