Pagi itu, matahari bulan Maret menembus celah gorden sebuah ruang persinggahan. Pendingin ruangan masih berdengung pelan, menyisakan udara sejuk yang kontras dengan kehangatan teh yang perlahan tandas di atas meja.
Aku merapikan barang-barang dengan tenang. Tidak ada tergesa, tidak ada getar panik di tangan. Di kepala, bayangan tentang alarm subuh yang berubah-ubah di layar ponselnya—dari 5.30, ke 7.30, lalu ke 5.45—masih terekam jelas. Seseorang telah kembali ke dunia nyatanya, yaitu urusan bengkel, perjalanan ke bandara, dan rutinitas yang tak pernah benar-benar diizinkan terbuka di ruang pertemuan ini.
Aku ingat betul kejadian semalam. Di bawah temaram lampu, setelah rentetan obrolan yang riuh, aku melemparkan satu jangkar kecil ke dasar lautannya.
"Boleh tanya sesuatu? Pengen dengerin cerita tentang apa pun yang selama ini belum sempat diceritain."
Pertanyaan itu sudah kusimpan sejak dua atau tiga tahun lalu. Sebuah pintu yang sengaja kubuka lebar-lebar, berharap ia melangkah masuk membawa kerentanannya. Namun, yang kudapatkan adalah keheningan. Ia diam. Membeku dalam keengganannya untuk menelanjangi ego dan masa lalu.
Dulu, diamnya akan menjadi badai di kepalaku. Aku pasti akan menyalahkan diri sendiri, mereka-reka apakah aku bukan tempat yang cukup nyaman untuk bersandar. Tapi semalam, di ruangan itu, aku hanya tersenyum tipis dalam hati. Aku akhirnya mengerti. Diamnya bukanlah sebuah penolakan terhadapku, melainkan pengakuan jujur akan ketidakmampuannya sendiri. Ia hanya mencari taman bermain yang riuh untuk melepaskan penat, bukan katedral yang hening untuk menyembuhkan jiwanya.
Kesadaran itu mengubah caraku melangkah. Pagi sebelumnya, aku sempat menguji kewarasanku sendiri. Saat waktu sarapan tiba, aku melihatnya duduk di area luar ruang makan, mengepulkan asap rokok. Dulu, langkahku pasti akan otomatis menghampirinya, mengorbankan kenyamananku agar kami bisa bersama. Tapi pagi itu, aku mempraktikkan ketidakpedulian yang berdaulat. Aku berjalan lurus, mengambil makananku, dan duduk di ruang dalam yang sejuk.
Aku tak lagi berlari mencari perhatiannya. Dan keajaiban kecil dari kedaulatan itu terjadi karena aku tak mengejarnya, ia yang akhirnya merasa kehilangan kendali. Ia bangkit, melangkah masuk ke wilayahku, dan menemaniku makan hingga selesai.
Mungkin karena egonya sedikit goyah oleh ketenanganku hari itu, pada pagi berikutnya ia bertindak lebih cepat. Ia memberiku sebuah instruksi berbalut ajakan untuk sarapan di luar, di teritorialnya. Aku menurutinya, sekadar menghargai ajakannya, tapi kali ini aku melangkah dengan mata terbuka. Aku tahu persis tarian apa yang sedang kami mainkan.
Hingga akhirnya, momen perpisahan itu tiba. Suasananya terasa begitu ringan. Kami berdiri bersisian di depan kamera ponsel. Ia menatap lurus ke lensa dengan ekspresi datar yang sudah begitu kukenal. Di sebelahnya, aku mengangkat tangan, membentuk tanda peace. Di balik kain yang menutupi sebagian wajahku, sepasang mataku menyipit, menyiratkan senyum yang sangat cerah dan otentik. Bukan senyum untuk menutupi luka, melainkan senyum kemerdekaan.
Namun, tepat sebelum kami benar-benar berbalik arah, ada satu sisa kebiasaan lama yang menyusup keluar. Sebuah refleks kecil dari tubuh yang menagih rasa aman. Aku meminta sebuah kecupan ringan untuk berpamitan.
Reaksinya? Seperti biasa, ia membangun benteng pertahanan untuk menutupi kapasitasnya yang sempit. "Banyak nian maunya," keluhnya. Sebuah kalimat yang dirancang untuk membuatku merasa menjadi perempuan yang terlalu menuntut dan merepotkan.
Dulu, mendengarnya mengeluh seperti itu, aku mungkin akan menciut. Aku akan merasa bersalah, atau buru-buru menarik kembali permintaanku agar ia tak merasa terbebani. Tapi hari ini, aku telah mengambil alih kendali.
Aku menatapnya, tidak menyusut satu sentimeter pun, dan menjawab dengan tenang, "Iya, emang banyak maunya."
Aku membenarkannya tanpa sedikit pun rasa malu. Ya, aku memang perempuan dengan standar dan kebutuhan. Aku pantas meminta kehangatan. Jika ia merasa permintaanku adalah sebuah beban yang terlalu berat, itu adalah batas mutlak dari kemampuannya, bukan kesalahanku.
Kami pun berjalan menuju kesibukan masing-masing. Di dalam kendaraan yang membawaku pergi, aku bersandar dan memejamkan mata. Ada desir kesedihan di dada—duka tipis karena harus merelakan sebuah ilusi yang bertahun-tahun kurawat. Tapi anehnya, kesedihan itu terasa sangat jernih. Tidak ada overthinking. Tidak ada teka-teki yang harus kupecahkan nanti malam.
Aku merogoh ponsel, melihat kembali kepingan foto itu. Tanda peace dan mata yang tersenyum seolah berbisik kepadaku: "Kamu berhasil. Kamu membiarkan ilusi itu tertinggal di belakang, dan kamu pulang membawa dirimu yang utuh."
Ruang persinggahan itu kini hanya tinggal riwayat perjalanan. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku merasa benar-benar bahagia, justru pada saat ia tak mampu memberikan apa-apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar