Ada sebuah fase kedewasaan yang ternyata jauh lebih tenang dari sekadar melupakan atau membenci. Fase itu bernama, berhenti mengejar.
Dulu, aku mengira kedaulatan diri berarti aku harus menutup pintu rapat-rapat, mengunci setiap celah, dan mengusir siapa pun yang tidak bisa memenuhi ekspektasiku. Aku pikir, untuk bisa melindungi batinku, aku harus membangun tembok yang tinggi dan bersikap seolah aku tidak lagi peduli.
Namun belakangan ini, setelah mengamati ritme hatiku sendiri, aku menyadari sebuah kejujuran yang membebaskan. Aku ternyata tidak sedang menutup pintu.
Aku masih memiliki ruang kehangatan. Aku masih peduli. Dan jika harus jujur, pintuku tidak pernah benar-benar terkunci untuknya.
Tetapi, ada satu hal fundamental yang telah berubah selamanya. Aku tidak akan lagi melangkah keluar dari rumah batinku untuk mengejarnya. Aku tidak akan lagi berlari ke tengah jalan hanya untuk memastikan apakah ia masih di sana. Aku menolak menghabiskan energiku untuk memintanya menatapku, memintanya hadir, atau mencoba menerjemahkan keheningannya menjadi sebuah ilusi cinta.
Pintuku tetap terbuka. Namun kali ini, siapa pun yang ingin masuk, harus melangkah dengan kakinya sendiri dan menunjukkan usaha yang nyata. Aku menolak menerima "tamu" yang hanya ingin berteduh sesaat tanpa niat untuk menetap. Aku menolak "remah-remah" dari seseorang yang terlalu takut untuk memberikan komitmen emosional yang utuh.
Jika ia tidak pernah melangkah maju, biarlah ia tetap berada di luar. Jika ia pada akhirnya memilih pergi, biarlah angin yang menutup pintuku perlahan.
Kini, aku memilih duduk tenang di ruanganku sendiri. Menikmati teh hangat, menyuapi jiwaku sendiri, dan merawat anak kecil di dalam batinku yang tak akan pernah lagi kubiarkan kelaparan. Aku menyayanginya, namun aku jauh lebih menyayangi ketenanganku.
Aku tidak menutup pintu. Aku hanya sedang duduk, mengamati, dan membiarkan usahanya atau ketiadaan usahanya, menjadi jawaban atas segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar