Suatu sore di tengah kesibukan lapangan, persiapan penyelenggaraan Diskusi Tematik 2 organisasiku dalam ruang auditorium tengah kota Sekayu, Musi Banyuasin. Aku menyerahkan sebuah dokumen. Poin-poin sambutan yang sudah kukerjakan dengan serius, sudah kupikirkan matang-matang, sudah kurevisi beberapa kali di dalam kepala sebelum benar-benar kutulis.
Tapi begitu dokumen itu berpindah tangan, ada sesuatu yang terjadi di dalam dadaku. Sebuah penantian kecil yang diam-diam muncul tanpa diundang.
Apakah ini sudah cukup baik?
Lalu seseorang membacanya. Mengangkat kepala. Dan berkata langsung, "Eh Nov, kamu belum percaya diri ya sama kerjaan kamu sendiri."
Aku tidak langsung menjawab. Karena dalam diam, aku tahu dia benar.
Bukan sekali dua kali aku merasakannya. Sudah mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, sudah mencurahkan pikiran dan waktu, tapi tetap saja ada suara kecil yang menunggu. Menunggu seseorang bilang "ini bagus", "ini benar", "ini cukup",.
Seolah tanpa konfirmasi itu, pekerjaanku belum benar-benar selesai.
Aku menyebutnya jeda validasi, celah kecil antara selesai mengerjakan dan benar-benar merasa yakin bahwa yang kukerjakan itu layak.
Dan celah itu, ternyata, sudah lama ada.
Aku mulai bertanya pada diri sendiri pagi ini, sejak kapan ini dimulai?
Perlahan aku menyadari sesuatu. Mungkin aku tumbuh di lingkungan yang lebih banyak menilai daripada mempercayai. Lebih banyak mengoreksi daripada mengakui. Bukan karena orang-orang di sekitarku jahat, justru sebaliknya, mereka peduli dan punya standar tinggi. Tapi entah bagaimana, yang lebih banyak tersampaikan adalah 'apa yang kurang', bukan 'kamu sudah cukup baik.'
Jadi otakku belajar satu hal tanpa aku sadari bahwa selesai mengerjakan sesuatu saja tidak cukup. Aku perlu bukti dari luar bahwa itu memang baik.
Dan pola itu, ternyata, tidak hanya muncul di pekerjaan. Ia muncul di mana-mana. Dalam keputusan-keputusan kecil. Dalam cara aku memandang hasil kerjaku sendiri. Bahkan dalam cara aku menjalani hubungan dengan orang lain.
Yang lucu adalah ini, aku bisa menganalisis sistem kebijakan daerah, memfasilitasi forum multi-pihak, menyiapkan dokumen yang dibaca pejabat - tapi untuk bilang "iya, ini sudah bagus", kepada diri sendiri, aku masih belajar.
Mungkin kamu juga pernah merasakannya.
Mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, lalu diam-diam menunggu seseorang mengkonfirmasi bahwa itu cukup layak. Bukan karena kamu tidak kompeten. Tapi karena suara di dalam belum cukup keras untuk mengalahkan kebiasaan lama yang mencari pegangan di luar.
Aku tidak punya jawaban yang sudah selesai untuk ini. Aku masih dalam perjalanan belajar mempercayai suara di dalam, suara yang sebenarnya sudah tahu sejak awal, sebelum konfirmasi dari luar datang.
Tapi satu hal yang mulai aku pahami bahwa kepercayaan diri bukan berarti tidak butuh feedback. Kepercayaan diri adalah ketika kamu bisa menyelesaikan sesuatu, meletakkannya dengan tenang, dan berkata pada diri sendiri bahwa "aku sudah melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan hari ini. Dan itu cukup."
Pelan-pelan. Satu hari dalam satu waktu.
Dan untuk kamu yang hari ini juga sedang menunggu seseorang bilang bahwa kamu sudah cukup baik, izinkan aku yang bilang lebih dulu, "Kamu sudah cukup. Kamu sudah melakukan lebih dari yang kamu sadari. 🤍
Btw, bicara soal "sudah cukup", SKY COCO juga lahir dari proses yang tidak bisa terburu-buru. Fermentasinya perlu waktu hingga 7 hari. Tidak ada jalan singkat untuk sesuatu yang mau tumbuh dengan baik. Mungkin kita juga begitu.
Kalau mau stok nata de coco, chat aja ya. Kita masih tersedia, whatsapp kami saja Whatsapp SKYCOCO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar