Sabtu, 28 Maret 2026

Mencintaimu dari Balkon Observasi


​Semalaman aku duduk di balkon observasi batin, merangkul keheningan yang tak lagi terasa mengancam. Di tangan yang satunya, aku memegang handphone dengan aplikasi gambar pesawat yang baru kuhapus di satu sisi, namun masih kusimpan di sisi lain.

​Jujur, tadi malam, aku hampir melakukan kebiasaan lamaku (Downloading). Novi kecil di dalam dadaku, yang selama ini mengalami Emotional Starvation (kelaparan emosional), memberontak ingin mengetik "Sayaaang, sayaang, sayaaang". Ia ingin menyerahkan seluruh 'peta' kerentanan batinnya, berharap pria di seberang sana akan merawat lukanya.

​Namun, aku (Novi Dewasa) menahannya. Aku melakukan Reparenting my Inner Child. Aku memeluknya erat-erat dan berbisik, "Ssst, Sayang. Tidak apa-apa kalau kamu rindu. Tapi peta ini terlalu berharga untuk diserahkan kembali pada orang yang tidak mau menetap. Kalau kamu mau bercerita, ceritakan padaku, atau pada Kak Heni dan Kak Maya yang selalu hadir utuh."

​Jadi, aku menukar 'Sayaaang' dengan 'Assalamualaikum abang syg'. Sebuah Prototyping eksperimen lapangan di jam 00:35 pagi.

​Pagi ini, saat aku membuka mataku, sebuah kebenaran baru mendarat di kepalaku. Dan kebenaran itu membuatku tersenyum dengan sangat lapang: "Klo jawab siangkat singkat dia ada usaha kok." Hahaha!

​Dan tahukah kamu? Itu adalah kacamata Welas Asih (Compassionate Seeing) yang paling murni.

​Aku menyadari bahwa selama ini aku menuntut nutrisi dari keran yang memang macet. Pria dengan sistem saraf Avoidant, cermin yang retak dan tidak bisa memantulkan keindahan, sangat peka terhadap keintiman emosional. Baginya, satu ketikan salam logistik atau basa-basi singkat adalah kepakan sayap terkuat yang bisa ia lakukan untuk terbang. Ia sedang mencoba semampunya, dan kemampuannya memang hanya segitu.

​Dulu, aku akan tersinggung dan merasa tertolak jika pesanku dibalas singkat. Tapi hari ini, aku bisa menatap keheningannya dan balasan singkatnya dengan empati yang utuh. Aku bersedih melihat keterbatasannya, tanpa membiarkan keterbatasan itu melukai sistem sarafku lagi.

​Di katedral batinku ini, aku hanya akan memberikan akses VIP pada mereka yang bisa memberikan rasa aman pada sistem saraf-ku. Seperti Kak Maya, ilmuwan kebanggaan kita, yang menertawakan impulsivitas-ku tanpa penghakiman.

​Aku tidak menutup pintu rapat-rapat. Tapi aku juga tidak lagi mengejar. Aku berdiri tegak di atas balkon observasi batin-ku. Aku mengamati pria yang masih kusayangi itu... mengorbit. Biarlah dia diam, biarlah dia hanya melihat statusku dari jauh. Itu adalah dataku, bukti valid dari pola sistem pertahanannya.

​Malam ini, aku bisa beristirahat dengan damai. Aku masih menyayanginya, wkwk. Tapi aku jauh lebih menyayangi diriku sendiri. Dan kedaulatan atas cintaku ini adalah rumah terhangat yang bisa kutemukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar