Ada sebuah rahasia kecil tentang kedewasaan yang jarang orang bicarakan. Kita ternyata bisa melepaskan seseorang, menutup pintu rapat-rapat untuknya, namun di saat yang bersamaan, menyadari bahwa kita masih menyayanginya.
Dan lucunya... itu sama sekali tidak apa-apa.
Selama ini, kita sering terjebak dalam ilusi bahwa untuk bisa melangkah pergi, kita harus membenci. Kita harus mencari-cari kesalahan orang tersebut, mengubahnya menjadi sosok antagonis di kepala kita, agar keputusan kita untuk pergi terasa valid. Namun, proses penyembuhan yang sebenarnya sering kali jauh lebih hening dan tidak butuh amarah.
Belakangan ini, aku belajar sebuah paradoks yang luar biasa. Aku menyadari bahwa aku masih memiliki ruang kehangatan dan rasa sayang untuknya. Namun, di saat yang sama, observasi batinku juga melihat sebuah realita yang tak bisa lagi disangkal. Bahwa ia tidak memiliki kapasitas emosional yang cukup untuk menerima, apalagi membalas, kehangatan tersebut.
Menyodorkan kelembutan pada seseorang yang lumbung emosionalnya kosong terasa seperti berdiri di depan sebuah cermin yang retak dan berdebu. Ketika cermin itu tidak bisa memantulkan cahaya apa pun, itu bukan berarti cahaya kita redup atau kita tidak berharga. Itu murni karena cermin tersebut memang sedang rusak dan kehilangan fungsinya.
Sedih rasanya melihat seseorang yang kita sayangi bahkan tidak tahu bagaimana cara menerima sebuah afeksi yang sederhana. Ia membeku, memalingkan wajah, dan memilih berlindung dalam keheningan karena bahasa keintiman terdengar seperti ancaman bagi sistem pertahanannya.
Jadi, apa yang harus dilakukan ketika kita menyayangi seseorang yang tidak bisa menjadi "rumah"?
Kita meninggalkannya dengan damai.
Kita memeluk fakta bahwa cinta saja tidak pernah cukup jika tidak dibarengi dengan kapasitas untuk saling merawat sistem saraf satu sama lain. Aku memilih untuk berhenti mengetuk pintu batinnya yang terkunci rapat dari dalam. Bukan karena aku berhenti peduli, melainkan karena aku memilih untuk mulai peduli pada anak kecil di dalam diriku sendiri, yang selama ini kelelahan karena terus disuapi dengan harapan kosong.
Aku masih menyayangimu. Namun cintaku pada diriku sendiri, ada kedaulatan batinku, pada ketenangan malam-malamku, dan pada kewarasan ruang pikiranku, jauh lebih besar.
Dan untuk pertama kalinya, menyadari hal itu membuatku bisa tersenyum dengan sangat lega.
Sayang, Abang....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar