Jam di dinding sudah menunjuk angka 11.50 malam. Kamar sudah remang, tapi cahaya dari layar laptop masih menyala terang, memantulkan siluet wajahku yang jujur saja... sudah sangat lelah.
Mataku mulai memberat. Bahuku kaku. Tubuhku sudah berteriak menarik tuas darurat, meminta satu hal yang sangat sederhana: rebahan.
Tapi, tepat saat aku akan menutup layar laptop, sebuah suara berisik dan familiar mendadak muncul di kepalaku.
"Jangan tidur dulu. Tugasmu masih banyak. Kalau kamu berhenti sekarang, kamu tertinggal. Sayang banget waktunya terbuang cuma buat tidur."
Tanganku berhenti di udara. Di sinilah aku, terjebak lagi dalam siklus yang sama. Aku menyebutnya Guilt of Resting—rasa bersalah yang merayap diam-diam setiap kali aku ingin beristirahat. Entah sejak kapan, aku dan mungkin banyak perempuan di luar sana, mulai mengukur harga diri dari seberapa panjang to-do list yang berhasil dicoret, dan seberapa menderita kita hari ini. Seolah-olah, kalau kita tidak sibuk, kita tidak berharga.
Malam itu, aku menarik napas panjang. Aku menyandarkan punggungku ke kursi dan memutuskan untuk sekadar mengamati suara berisik itu.
Apakah benar aku pemalas kalau aku tidur sekarang?
Tiba-tiba, aku menyadari satu hal yang lucu. Kalau layar laptopku mulai nge-lag dan panas (overheat), apa yang aku lakukan? Aku akan me--restart-nya. Aku akan memberinya waktu untuk pendinginan agar sistemnya tidak rusak.
Lalu, mengapa aku memperlakukan diriku sendiri lebih buruk daripada sebuah mesin?
Padahal, saat mataku memberat, itu bukanlah kelemahan. Itu adalah sistem sarafku yang bekerja dengan sangat cerdas. Otakku sedang memberi sinyal bahwa ia butuh shutdown sementara untuk membuang racun kognitif dan meredakan ketegangan. Ia butuh jeda agar besok bisa bekerja dengan tajam lagi.
Memaksakan diri bekerja saat tubuh menuntut jeda bukanlah sebuah dedikasi. Itu adalah ego. Ego yang diam-diam menghancurkan kualitas karyaku sendiri.
Malam itu, aku tersenyum kecil. Aku memutuskan untuk melakukan sebuah "pemberontakan" kecil yang sangat melegakan.
KLIK. Aku menutup laptopku. Aku menepis suara berisik di kepalaku, dan menggantinya dengan sebuah afirmasi baru, "Aku harus menomorsatukan pemulihanku, agar besok aku bisa memberikan versi terbaik diriku."
Aku merebahkan diri di atas kasur. Dinginnya seprai menyentuh kulitku, dan perlahan, seluruh ketegangan di bahuku luruh. Tidak ada lagi rasa bersalah. Tidak ada lagi perlombaan menjadi yang paling sibuk. Yang ada hanyalah aku, yang sedang merawat instrumen paling berharga dari mimpiku yaitu diriku sendiri.
Untuk kamu, perempuan hebat yang saat ini matanya sedang membaca tulisan ini padahal tubuhnya sudah meronta meminta jeda...
Tutup layarmu. Tidur yang cukup bukanlah sebuah kemalasan. Itu adalah strategi bertahan paling dasar. Malam ini, berikanlah dirimu izin untuk menjadi manusia, bukan mesin.
Selamat merebahkan diri tanpa setitik pun rasa bersalah. Dunia digital bisa menunggumu esok hari. 🤍
Tidak ada komentar:
Posting Komentar