Aku bilang aku aman. Dan memang benar—aku tidak menangis. Alhamdulillah. Namun malam tetap berjalan pelan. Dan aku terjaga, nyaris sampai pukul tiga pagi. Bukan karena sedih yang meledak-ledak, melainkan karena ada rasa yang perlu diberi waktu untuk turun dengan tenang. Rasa yang tidak meminta dihibur, hanya ingin diakui keberadaannya. Aku harus jujur pada diri sendiri bahwa ada kecewa di sana. Kecil, tapi nyata. Dan itu tidak apa-apa.
Kecewa bukan tanda kelemahan. Ia hanya bukti bahwa aku sempat berharap, dan harapan itu manusiawi. Yang paling penting, kini semuanya jelas. Tidak ada lagi ruang abu-abu yang membuatku menebak-nebak. Tidak ada lagi kebingungan yang harus aku rawat sendirian. Kejelasan, meski tidak selalu sesuai keinginan, tetap lebih menenangkan daripada ketidakpastian.
Malam itu aku belajar satu hal penting bahwa aku boleh kuat, aku boleh baik-baik saja, dan tetap boleh merasa.
Terima kasih untuk diriku sendiri—yang berani melihat hidup dari sudut yang lebih luas, yang memilih menerima dengan lapang, dan yang tetap menjaga hati tanpa mengeraskannya. Aku mungkin terjaga lama, tapi aku tidak tersesat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar