Aku hanya ingin tidak menebak-nebak.
Aku mulai memahami bahwa tidak semua orang nyaman ditanya sedang di mana atau sedang apa. Tidak semua orang merasa aman dengan kedekatan emosional. Ada yang justru merasa terancam ketika hubungan mulai meminta kehadiran, bukan hanya keberadaan.
Aku mengerti itu. Setidaknya aku sedang berusaha mengerti.
Aku tidak berniat memaksa siapa pun untuk selalu bercerita. Aku tidak ingin mengikat, apalagi menuntut. Tapi ada bagian dalam diriku yang jujur dan tidak bisa terus disangkal: terlalu lama tidak diberi kabar membuatku sedih. Bukan marah. Bukan kecewa yang meledak. Sedih yang sunyi.
Aku tidak butuh pesan panjang. Aku tidak butuh penjelasan detail. Kadang satu kalimat sederhana—sedang sibuk apa, atau akan menghubungi kapan—sudah cukup membuat dadaku lebih tenang. Bukan karena aku bergantung, tapi karena aku manusia yang ingin merasa diingat.
Yang melelahkan bukan menunggu.
Yang melelahkan adalah menunggu tanpa tahu harus menunggu sampai kapan.
Aku sering mencoba menenangkan diri dengan logika. Mengingatkan diri sendiri untuk tidak berlebihan, untuk lebih dewasa, untuk lebih sabar. Tapi ada hari-hari ketika logika tidak cukup kuat menahan rasa sepi yang muncul dari ketidakjelasan. Dan di hari-hari seperti itu, aku belajar bahwa kebutuhanku juga layak didengar.
Aku ingin kejelasan, bukan kontrol.
Aku ingin tahu waktu, bukan kepastian abadi.
Jika seseorang bisa berkata, “Nanti hari Senin aku kabari,” atau “Aku lagi sibuk, mungkin beberapa hari ke depan,” rasanya seperti ada pegangan kecil yang membuatku tidak jatuh ke dalam kecemasan sendiri. Aku tidak lagi harus menebak-nebak, mengira-ngira, atau menyalahkan diriku sendiri karena berharap.
Aku juga ingin jujur tentang satu hal yang selama ini kupendam pelan-pelan: kadang aku sedih karena terasa susah sekali untuk dekat. Seolah setiap langkah kecil ke arah kedekatan harus disertai jarak yang lebih besar.
Aku tidak tahu apakah ini soal waktu, ketakutan, atau kesiapan. Yang aku tahu, rasanya tidak ringan.
Aku tidak ingin membuat siapa pun takut.
Aku tidak ingin membuat siapa pun merasa terdesak.
Aku hanya ingin dekat dengan cara yang aman. Pelan-pelan. Dengan komunikasi yang cukup jelas agar aku tidak kehilangan diriku sendiri di tengah usaha memahami orang lain. Aku ingin hadir tanpa harus mengejar, dan dicari tanpa harus menghilang.
Mungkin ini bukan tentang siapa yang salah atau benar. Mungkin ini tentang dua orang dengan kebutuhan rasa aman yang berbeda, mencoba bertemu di titik yang sama. Dan di proses itu, aku sedang belajar satu hal penting: aku boleh mengerti orang lain, tanpa harus terus mengabaikan perasaanku sendiri.
Hari ini aku memilih jujur.
Bukan untuk menuntut, tapi untuk menjaga diriku.
Karena hubungan yang sehat tidak seharusnya membuatku terus bertanya-tanya apakah aku masih ada. Dan kedekatan yang aman tidak seharusnya membuat salah satu dari kita merasa sendirian terlalu lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar