Selasa, 02 Desember 2025

Aku Belum Siap Cerita

Ada momen ketika aku merasa begitu dekat dengan seseorang, tapi pada saat yang sama… terasa jauh. Kami berbicara, saling menanyakan kabar, saling mencari, namun tetap ada sesuatu yang menggantung di antara kami—sesuatu yang tidak terucap.

Ketika aku bertanya, ketika aku mencoba membuka percakapan, ketika aku mengulurkan tangan lewat pesan, ada jeda di ujung kalimatnya. Jeda yang tidak diisi kata, tapi terasa penuh dengan sesuatu yang tidak ingin atau tidak bisa ia bagi.

Dan di tengah semua itu, satu kalimat yang tidak pernah ia tulis, tapi aku bisa rasakan:

“Aku belum siap cerita.”

Dan kalimat itu… lebih menusuk daripada jawaban singkat apa pun.
Bukan karena aku marah, bukan karena aku kecewa, tapi karena aku tahu, ada bagian dari dirinya yang sedang berjuang sendirian.

Aku bilang aku kangen.
Aku bilang aku ingin tahu kabarnya.
Aku bertanya apakah dia sudah pulang, apakah dia di Palembang.
Tapi setiap jawabannya seperti pintu yang hanya terbuka selebar celah, cukup untuk menjawab, tapi tidak cukup untuk benar-benar masuk.

Dan saat aku mencoba memahami, aku merasa campuran antara rindu dan ketidakpastian.
Rindu karena aku peduli.
Tidak pasti karena aku tidak tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan.

Di titik inilah aku akhirnya mengakui sesuatu pada diriku sendiri:

Tidak semua orang siap bercerita saat kita siap mendengarkan.

Mungkin dia lelah.
Mungkin dia sedang menghadapi hal yang belum ia mengerti sendiri.
Mungkin dia tidak ingin terlihat rapuh.
Atau mungkin… dia hanya butuh diam.

Dan aku belajar bahwa mencintai seseorang—atau sekadar menyayanginya—kadang berarti menghormati diamnya. Tidak memaksa, tidak menekan, tidak menuntut.

Tapi jujur…
di kedalaman hati, ada rasa sesak yang sulit aku jelaskan.

Rasa ingin tahu, tapi tidak bisa bertanya lebih jauh.
Rasa ingin dekat, tapi terhalang jarak yang tidak terlihat.
Rasa ingin hadir, tapi takut menjadi beban.
Rasa ingin dimengerti, tapi tidak ingin memaksa.

Aku ingin bilang, “Ceritalah, aku di sini.”
Tapi aku tahu, itu bukan saatnya.

Jadi aku hanya menahan semuanya dengan lembut dalam hati.
Menjaga rindu yang datang dan pergi.
Menjaga harapan bahwa ketika ia siap, ia akan kembali dengan cerita yang lengkap—bukan setengah.

Dan saat itu tiba…
aku ingin berada di sana, bukan untuk menghakimi, tapi untuk memeluk semua alasan kenapa selama ini ia diam.

Untuk sekarang, aku belajar menerima bahwa:

Beberapa hati butuh waktu lebih lama untuk berani membuka diri.
Dan tidak apa-apa kalau aku menunggu. Tapi aku juga belajar untuk tidak kehilangan diriku sendiri di dalam penantian itu.

Ini bukan tentang dia saja.
Ini juga tentang aku—tentang bagaimana aku belajar mencintai tanpa mengorbankan harga diriku, dan menunggu tanpa kehilangan arah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar