Minggu, 01 Februari 2026

Sebelum SMA, Aku Hanya Anak Kecil yang Menulis Diam-Diam


(catatan jujur dari diary SMP yang akhirnya kupahami sekarang)

Dulu aku menulis diary bukan karena suka menulis. Aku menulis karena tidak punya tempat lain untuk menaruh perasaan.Waktu SMP, rasanya dunia itu besar sekali. Tapi hatiku kecil. Terlalu kecil untuk menampung semuanya sendirian.

Jadi aku menulis. Tentang teman. Tentang cinta-cintaan yang malu-malu. Tentang sahabat yang tiba-tiba terasa jauh. Tentang merasa tidak cukup. Tentang ingin dimengerti tapi tidak tahu harus bicara ke siapa.Diary itu jadi satu-satunya ruang aman. Tempat aku boleh jujur.

Suatu hari aku sadar bukuku pernah dibaca orang rumah. Aneh ya, bukan marah. Lebih ke… menutup diri pelan-pelan.

Sejak itu aku mulai menulis bahasa Inggris. Beli buku diary yang ada kuncinya. Bukan supaya terlihat keren.

Tapi supaya hatiku punya pintu. Supaya tidak semua orang bisa masuk sembarang.Sekarang kalau kupikir, itu mungkin pertama kalinya aku belajar membuat batas.Dan lucunya, aku belajar itu waktu masih anak SMP.

Di halaman-halaman lain ada cerita tentang “Sam”.Cinta pertamaku.Bukan cinta besar.Bukan drama.Cuma senang lihat dia berdiri dekat.Cuma bahagia kalau kebetulan satu barisan.Cuma bertanya-tanya kecil tentang "dia sadar aku ada nggak ya?”

Sederhana sekali.Polos sekali. Sekarang kubaca lagi, aku malah tersenyum. Ternyata dulu aku mudah sekali bahagia. Cuma karena hal-hal kecil.

Lalu ada juga cerita tentang sahabat.Tentang salah paham.Tentang merasa ditinggalkan.Tentang kalimat-kalimat yang mungkin terlalu keras untuk anak seusia itu. Aku membaca ulang dan baru sadar bahwa aktu itu aku sering menyalahkan diri sendiri duluan.Sering minta maaf duluan. Sering takut kehilangan orang.

Padahal…aku cuma anak kecil yang pengin ditemani. Bukan anak yang “terlalu sensitif”. Cuma anak yang hatinya lembut.

Yang paling mengejutkanku saat membaca semua diary itu bukan ceritanya. Tapi diriku sendiri. Au melihat seorang anak yang:

  • gampang sayang sama orang
  • setia sama teman
  • cepat merasa bersalah
  • tapi tetap berusaha baik


Bahkan waktu marah pun, tulisannya tetap penuh ragu-ragu. Seolah dia takut menyakiti siapa pun.D an aku berpikir tentang "ya ampun,ternyata dari dulu aku sudah berusaha sebaik itu."


Menjelang SMA, nada tulisanku berubah. Lebih tenang. Lebih pasrah. Leebih banyak doa. Seperti anak kecil yang pelan-pelan belajar bahwa hidup nggak selalu sesuai mau kita, tapi tetap bisa dijalani. Au masuk SMA unggulan.Pindah fase.Pindah dunia. Tapi sebelum semua itu,ada versi kecil diriku yang sudah berjuang diam-diam.

Yang menangis diam-diam.Yang jatuh cinta diam-diam.Yang menulis diam-diam. Dann hari ini, aku cuma ingin bilang ke dia "terima kasih ya, sudah bertahan.”

Sekarang aku nggak membaca diary itu dengan sedih. Aku membacanya dengan sayang.Seperti melihat foto masa kecil. Bukan untuk kembali ke sana.Tapi untuk mengerti bahwa au pernah sekecil itu,dan tetap berhasil tumbuh.


Kadang kita lupa, sebelum jadi orang dewasa yang “kuat”,kita cuma anak kecil yang menulis di buku murah,berharap suatu hari semuanya akan baik-baik saja. Dan ternyata…

iya.

Pelan-pelan memang jadi baik-baik saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar