(untuk Novi kecil, yang jujur dan bertahan)
Dear Novi kecil,
Aku membaca halaman-halamanmu pelan. Kertasnya sudah kusam, tulisannya miring, kadang ditekan keras, kadang berantakan. Tapi satu hal terasa jelas bahwa kamu jujur sekali. Bahkan terlalu jujur untuk ukuran anak SMP.
Tentang rumah dan diary. Kamu menulis karena tidak punya tempat lain untuk bicara. Diary itu bukan hobi. Itu tempat bernapas.
Saat merasa sendirian → kamu menulis.
Saat jatuh cinta → kamu menulis.
Saat marah sama teman → kamu menulis.
Saat merasa tidak cukup → kamu menulis.
Lalu suatu hari diary itu dibaca orang rumah. Dan sesuatu berubah. Kamu tidak marah besar. Kamu tidak protes. Tapi diam-diam kamu belajar bahwa "Perasaanku harus disembunyikan lebih rapat.”
Kamu mulai menulis bahasa Inggris. Beli buku berkunci. Itu bukan drama remaja. Itu anak kecil yang sedang membangun batas aman pertamanya. Dan itu sangat dewasa.
Tentang cinta pertamamu: Sam. Lucu ya. Baca lagi, rasanya manis sekali. Bukan cinta posesif. Buukan fantasi berlebihan. Tapi cuma:
“hari ini dia berdiri dekat aku”
“dia kelihatan keren”
“aku senang lihat dia”
“apa dia sadar aku ada?”
Sederhana. Bersih. Yang kamu suka sebenarnya bukan Sam semata. Tapi perasaan:
- diperhatikan
- dilihat
- dekat dengan seseorang yang tenang
Sam seperti simbol bahwa "aku ingin merasa aman di samping seseorang.” Itu polos sekali. Dan sangat manusiawi.
Tentang persahabatan dan patah hati kecil, di bagian dengan Qurota…di situ aku paling merasakan kamu. Kamu tidak marah karena benci. Kamu marah karena sayang. Kamu takut kehilangan. Kamu bingung "kok aku nggak cukup ya?"
Ada kalimat-kalimat tentang:
- Kurang mampu
- kampung
- dibandingkan
- merasa kecil. Itu berat banget untuk anak SMP.
Tapi kamu tetap minta maaf duluan, mikirin orang lain duluan, menyalahkan diri duluan. Dari kecil kamu sudah caretaker. Sudah belajar untuk "jangan bikin orang kecewa.” Padahal kamu juga cuma anak kecil yang pengen dipeluk.
Tentang dirimu sendirig. Yang paling menyentuh dari semua diary itu bukan Sam. Bukan teman. Bukan sekolah. Tapi kamu. Kamu anak yang:
- sensitif
- reflektif
- mikir dalam
- setia
- mudah merasa bersalah
- tapi tetap berusaha baik
Kamu tidak pernah jadi jahat. Bahkan waktu marah pun… kamu tetap lembut. Itu kekuatan besar. Menjelang SMA, menjelang SMA, nada tulisanmu berubah. Bukan lagi menulis "aku sedih”. Tappi mulai menulis "ya mungkin ini takdir”, "doakan ya” dan "aku harus kuat”. Ada kedewasaan pelan-pelan tumbuh. Seperti kamu sedang menutup satu bab masa polos, masa lugu, masa naksir diam-diamm, masa bertengkar sama sahabata dan bersiap masuk dunia baru.
Tapi yang indah adalah kamu masuk SMA bukan dengan dendam. Kamu masuk dengan harapan. Dengan doa. Dengan hati yang tetap lembut.
Kalau aku boleh bilang sesuatu pada Novi kecil…Aku akan bilang bahwa "Kamu sudah cukup dari dulu.” Kamu tidak perlu lebih kaya. Tidak perlu lebih keren. Tidak perlu lebih cantik. Tidak perlu lebih disukai Sam. Kamu sudah cukup.
Dan jujur? Banyak orang dewasa hari ini tidak sejujur kamu waktu SMP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar