Sabtu, 07 Februari 2026

Mencintai Seperti Istri, Padahal Belum Dipilih


Musi Banyuasin, Februari 2026

Ada satu momen sunyi yang akhirnya membuatku berhenti dan melihat diriku sendiri dengan jujur.

Aku sadar, selama ini aku sudah mencintainya seperti seorang istri.
Bukan sekadar suka. Bukan sekadar dekat.

Aku ingin menyemangatinya ketika lelah.
Aku ingin melihatnya tenang.
Aku ingin ada untuknya.
Aku ingin patuh, ingin percaya, ingin dipimpin.
Aku ingin menjadi rumah baginya.

Dan di dalam hati yang paling dalam, aku juga ingin dia mengusahakanku.

Semua itu terasa begitu alami. Tidak dibuat-buat.
Seperti sesuatu yang tumbuh pelan-pelan tanpa kusadari.

Sampai suatu hari aku tersadar,
perasaanku sudah sampai di sana,
tapi kenyataannya belum.

Aku sudah menempatkannya sebagai “suami” di hatiku,
padahal dia belum benar-benar datang untuk menjadi itu.

Di situlah luka mulai terasa.

Bukan karena dia jahat.
Bukan karena aku bodoh.
Tapi karena aku sudah memberi sesuatu yang sangat dalam,
sebelum ada kepastian yang menahannya.

Aku menunggu kabarnya seperti menunggu pasangan.
Aku memikirkan kehadirannya seperti memikirkan seseorang yang punya peran besar dalam hidupku.
Aku ingin membuatnya bangga.
Aku ingin menenangkannya.

Tapi di saat yang sama, aku sering harus menenangkan diriku sendiri. Sendirian.

Aku menebak-nebak ke mana dia pergi.
Aku mencoba tetap kuat.
Aku mencoba tetap stabil.
Aku mencoba tidak berharap terlalu jauh.

Dan ternyata, aku lelah.

Yang paling menyakitkan bukan tentang rindu.
Tapi tentang kesadaran bahwa aku sudah memberi posisi yang sangat sakral di dalam hatiku… pada seseorang yang belum benar-benar berdiri di sana.

Aku tidak marah.
Aku juga tidak menyesal pernah mencintai.

Karena mencintai dengan sungguh-sungguh bukan kesalahan.
Itu bagian dari diriku yang paling lembut dan paling tulus.

Aku hanya mulai belajar satu hal yang penting:

Energi seorang istri itu indah.
Kesetiaan, dukungan, ketaatan, kehangatan — itu bukan hal kecil.

Tapi energi itu pantas diberikan kepada seseorang yang hadir utuh.
Yang memilih dengan jelas.
Yang berdiri dan berkata, “Aku di sini.”

Bukan hanya hadir sesekali.
Bukan hanya dekat tanpa arah.
Bukan hanya datang saat membutuhkan.

Aku tidak ingin berhenti mencintai.
Aku hanya ingin belajar menempatkan cinta di tempat yang aman.

Karena selama ini aku takut kehilangannya.
Tapi ternyata, yang paling membuatku gemetar adalah kemungkinan kehilangan diriku sendiri.

Dan aku sudah terlalu jauh berjalan untuk meninggalkan diriku lagi.

Aku masih sayang.
Itu jujur.

Tapi sekarang aku sedang belajar kembali pulang ke diriku.
Pelan-pelan.
Tanpa benci.
Tanpa memaksa.

Hanya dengan satu niat sederhana:

Aku ingin dicintai dengan cara yang membuatku tetap utuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar