Musi Banyuasin, Februari 2026
Ada satu kesadaran sunyi yang datang pelan-pelan.
Aku baru sadar, selama ini aku mencintai dengan cara yang sangat dalam.
Bukan sekadar hadir, bukan sekadar dekat.
Aku ingin menyemangatinya ketika lelah.
Aku senang melihatnya tenang.
Aku ingin ada untuknya, mendukungnya, dan berjalan di sampingnya.
Di dalam hati, aku sudah menaruhnya di tempat yang sangat penting.
Semuanya terasa alami. Tidak dibuat-buat.
Seperti sesuatu yang tumbuh perlahan tanpa kusadari.
Sampai suatu hari aku berhenti sebentar dan melihat diriku sendiri dengan lebih jujur.
Perasaanku sudah berjalan jauh.
Tapi kenyataannya belum tentu berjalan ke arah yang sama.
Aku mulai menyadari bahwa aku sudah memberi banyak ruang di dalam hidupku untuknya —
memikirkan kabarnya, menunggu kehadirannya, ingin membuatnya bangga, ingin jadi seseorang yang bisa diandalkan.
Namun di saat yang sama, aku sering harus menenangkan diriku sendiri. Sendirian.
Aku belajar tetap kuat.
Belajar tetap stabil.
Belajar tidak bertanya terlalu banyak.
Belajar merasa aman dengan diriku sendiri.
Dan ternyata, itu melelahkan.
Bukan karena mencintainya salah.
Bukan juga karena aku menyesal pernah peduli.
Justru karena perasaanku tulus, semuanya terasa begitu berarti.
Yang pelan-pelan terasa adalah satu hal yang sederhana:
aku sudah memberi tempat yang sangat dalam di hatiku,
pada sesuatu yang belum sepenuhnya memiliki bentuk yang jelas.
Aku tidak marah.
Aku juga tidak ingin menyalahkan siapa pun.
Aku hanya mulai belajar memahami diriku sendiri.
Bahwa keinginan untuk mendukung, untuk hadir, untuk merawat, untuk setia —
itu bagian yang indah dari diriku.
Dan itu bukan sesuatu yang harus dipadamkan.
Aku hanya ingin belajar menempatkannya dengan lebih bijak.
Supaya aku tetap utuh di dalamnya.
Karena selama ini aku takut kehilangan seseorang.
Tapi ternyata, yang paling membuatku gentar adalah kemungkinan kehilangan diriku sendiri.
Dan aku sudah terlalu jauh berjalan untuk tidak menjaga diriku.
Aku masih peduli.
Itu jujur.
Tapi sekarang aku sedang belajar kembali pulang ke diriku.
Pelan-pelan.
Tanpa menutup hati.
Tanpa memaksa apa pun.
Hanya dengan satu harapan sederhana:
Semoga suatu hari, apa yang tumbuh di hatiku bisa bertemu dengan sesuatu yang sama jelasnya di dunia nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar