Aku sempat bertanya-tanya,
apa yang membuat seseorang merasa takut mendekat padaku.
Pertanyaan itu muncul bukan karena aku menuntut jawaban,
melainkan karena aku ingin memahami.
Aku menelusuri ingatan,
mencari di mana letak kesalahanku.
Apakah aku terlalu hadir,
terlalu hangat,
atau terlalu berharap?
Padahal aku datang dengan niat baik.
Aku belajar memahami,
memberi ruang,
menahan kata,
dan berjalan pelan agar tidak menakutkan siapa pun.
Lalu aku menyadari sesuatu yang pelan-pelan menenangkan:
ketakutan itu tidak selalu tentang orang yang didekati,
sering kali tentang apa yang muncul di dalam diri orang yang mendekat.
Takut pada perasaan yang tumbuh.
Takut pada harapan setelah pertemuan.
Takut pada tanggung jawab yang mengikuti kedekatan.
Aku bukan sumber ketakutan itu.
Aku hanya menjadi cermin bagi sesuatu yang belum siap dihadapi.
Dan meski pada akhirnya ia tetap datang hari itu,
aku belajar bahwa keberanian sesaat
tidak selalu berarti kesiapan yang utuh.
Aku mengaguminya, iya.
Namun aku juga belajar satu hal penting:
mengagumi seseorang tidak seharusnya membuatku mengecil.
Aku boleh hadir sepenuhnya,
tanpa harus membuktikan bahwa aku aman untuk dicintai.
Karena cinta yang sehat
tidak tumbuh dari rasa takut,
melainkan dari keberanian untuk tinggal.
Hari ini, aku memilih berdamai.
Bukan dengan semua jawaban,
tapi dengan diriku sendiri.
Aku tidak menakutkan.
Aku hanya nyata.
Dan itu cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar