Awalnya hanya hal-hal kecil. Tentang kopi yang ada atau tidak ada. Tentang stempel, tinta hijau, dan nota yang bisa dibuat besok pagi. Tentang motor yang dipinjam sebentar, dan jam bangun yang disepakati dengan santai.
Tidak ada niat. Tidak ada rencana. Hanya percakapan yang berjalan karena terasa aman.
Aku suka caranya menjawab singkat tapi pasti. Tidak berlebihan. Tidak juga menjauh. Cukup untuk membuatku merasa ditemani---bukan diistimewakan, hanya tidak sendirian.
Di sela-sela itu, aku menulis satu kalimat jujur: Alhamdulillah, senangnya ada yang bikin tenang.
Kalimat itu sederhana. Tapi ternyata ia jujur pada rasa yang belum sempat aku pahami sepenuhnya.
Beberapa hari sebelumnya, aku sempat merasa aneh. Takut. Malu. Tapi tidak tahu pada siapa atau pada apa.
Tubuhku lebih cepat tahu daripada pikiranku. Ada sesuatu yang mulai tumbuh pelan-pelan--bukan cinta, mungkin. Lebih seperti harapan yang belum diberi nama.
Aku memilih jujur, meski dengan suara kecil. Aku bilang, kalau ada yang terasa janggal, tidak apa-apa disampaikan. Aku bilang, aku di sini--kalau ingin cerita. Aku tidak sedang meminta apa-apa. Aku hanya tidak ingin diam membawa rasa sendiri.
Lalu kalimat itu datang. Tenang. Tidak dramatis. "Aku aka menikah." Tidak ada yang runtuh. Tidak ada yang pecah. Justru ada sesuatu yang berhenti berputar di dalam dadaku.
Aku tersenyum, dan menulis: Alhamdulillah.
Aku bahkan menyemangati. Mendoakan agar tidak lama-lama, agar dimudahkan, agar lancar. Dan di situ aku sadar--rasa yang benar tidak selalu ingin memiliki. Kadang ia hanya ingin memastikan tidak melukai siapa pun, termasuk diri sendiri.
Ia meminta maaf. Kalau-kalau pernah memberi harapan. Kalau-kalau sikapnya terbaca lebih dari sekadar kawan.
Aku menjawab dengan tenang. Aman, kataku. Aku baik-baik saja. Dan itu bukan kebohongan. Karena kejujuran, meski datang belakangan, tetap lebih baik daripada kebingungan yang dipelihara.
Aku pun meminta maaf. Kalau terlalu sering memanggil. Kalau terlalu hangat di tempat yang seharusnya dijaga jaraknya. Ia bilang aman. Tapi aku tahu, menjaga perasaan orang lain juga berarti menjaga langkahku sendiri.
Malam itu aku menulis satu pesan terakhir. Bukan untuk mengikat. Bukan untuk menutup cerita. Hanya untuk menyatakan rasa lega.
Terima kasih karena sudah jujur.
Terima kasih karena dewasa.
Terima kasih karena tidak membiarkanku menebak-nebak sendirian. Setelah itu, tidak ada yang perlu dibahas lagi. Beberapa hubungan tidak ditakdirkan untuk berlanjut, tapi cukup untuk mengajarkan kita cara berhenti dengan baik.
Dan malam itu,
aku tidur tanpa membawa tanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar