Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Sabtu, 14 Februari 2026

Pertanyaan yang Mengendap di Udara


Ada satu momen yang tidak panjang, tidak dramatis, tapi tinggal cukup lama di dalam dada.

Waktu itu, kami sedang bersiap pulang. Suasananya biasa saja. Lelah, hangat, dan sunyi seperti pertemuan yang hampir selesai. Lalu tiba-tiba ia bertanya, ringan saja nadanya:

“Eka sekarang kerjanya apa?”tanyanya. Aku menjawab dengan nada lembut bahwa mungkin saat ini sedang mempersiapkan pernikahannya. Lalu, mucul lagi pertanyaan, 
“Kapan nikahnya?”

Aku menjawab seperlunya. Lalu pertanyaan berikutnya datang, pelan, tanpa banyak ekspresi:

“Kau kapan?”

Aku diam. Aku tidak langsung menjawab.

Bukan karena tidak punya jawaban. Justru karena terlalu banyak jawaban yang ingin keluar, tapi tidak satu pun yang terasa tepat untuk diucapkan.

Aku menatapnya sebentar. Jarak kami tidak jauh. Hanya sekitar satu meter. Cukup dekat untuk saling melihat, tapi entah kenapa terasa jauh untuk saling memahami.

Di kepalaku, ada kalimat yang hampir keluar:
“Abang kapan siap?”

Tapi kalimat itu berhenti di tenggorokan. Aku menahannya. Aku memilih diam.

Bukan karena aku tidak berani. Mungkin lebih karena aku tidak ingin memaksa sesuatu yang belum siap untuk disebutkan.

Aku sadar, kadang pertanyaan sederhana bisa menyimpan banyak makna. Bisa jadi hanya basa-basi. Bisa jadi juga bentuk kepedulian yang tidak tahu cara disampaikan. Bisa juga, hanya sekadar lewat.

Aku tidak tahu pasti.

Yang aku tahu, saat itu ada perasaan yang tipis dan lembut di dalam hati. Bukan marah. Bukan kecewa yang keras. Lebih seperti sedih yang halus, yang datang tanpa suara.

Karena sebenarnya, aku ingin pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan.

Aku ingin suatu hari, jawaban itu hadir dengan sendirinya. Bukan dari mulutku. Tapi dari seseorang yang memilih.

Aku belajar sesuatu dari momen itu.

Tidak semua hal harus langsung dijelaskan. Tidak semua rasa harus segera diungkapkan. Kadang, yang kita lakukan hanya menyimpannya sebentar. Membiarkannya duduk pelan di dalam hati.

Bukan untuk dipendam selamanya. Tapi untuk dilihat lebih jernih.

Aku tidak menyesali diamku saat itu. Diamku bukan karena takut. Diamku adalah cara menjaga agar percakapan tetap hangat, tetap ringan, tetap utuh.

Ada hal-hal yang memang lebih baik tumbuh sendiri. Tanpa didorong. Tanpa ditarik.

Karena kalau memang waktunya tiba, jawaban tidak lagi perlu ditanyakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar