Aku tidak menyangka satu kalimat sederhana bisa membuat dadaku berdetak secepat itu.
“Kau kapan?”
Pertanyaannya pendek. Nadanya biasa saja. Bahkan mungkin hanya lewat, seperti obrolan ringan sebelum pulang. Tapi entah kenapa, begitu kata itu sampai ke telinga, tubuhku langsung bereaksi lebih dulu sebelum pikiranku sempat memahami.
Ada getaran kecil di dada. Cepat. Tiba-tiba. Seperti sesuatu yang lama tertahan, mendadak diketuk dari dalam.
Aku diam.
Bukan karena tidak tahu jawabannya.
Bukan juga karena malu.
Tapi karena di balik pertanyaan itu, ada terlalu banyak rasa yang bergerak bersamaan.
Ada harapan yang sempat muncul sekilas.
Ada takut yang ikut berdiri di sampingnya.
Ada juga sedih tipis yang tidak jelas asalnya.
Seolah-olah tubuhku mengerti sesuatu yang belum sempat diucapkan oleh hati.
Aku menatapnya sebentar. Tidak lama.
Cukup untuk merasakan bahwa momen itu nyata.
Lalu aku memilih diam.
Karena di dalam diriku, ada satu bagian yang sebenarnya ingin menjawab:
“Aku menunggu seseorang yang memilihku.”
Tapi kalimat itu tidak keluar.
Yang keluar hanya napas pelan.
Dan detak yang masih terasa sampai beberapa detik setelahnya.
Aku baru sadar, mungkin bukan pertanyaannya yang membuatku berdebar. Tapi makna yang kuberikan pada pertanyaan itu.
Kadang tubuh kita menyimpan lebih banyak cerita daripada kata-kata.
Ia ingat siapa yang kita sayang.
Ia ingat apa yang kita harapkan.
Ia juga tahu kapan sesuatu terasa dekat, tapi belum bisa digenggam.
Dan hari itu, detak itu seperti mengatakan:
“Ada sesuatu yang penting di sini.”
Bukan untuk disimpulkan.
Bukan untuk dipaksakan.
Hanya untuk dirasakan.
Aku masih mengingatnya.
Detak yang datang tiba-tiba.
Sunyi, tapi jelas.
Seperti sebuah ruang kecil di dalam hati yang pelan-pelan terisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar