Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Selasa, 07 Oktober 2025

untuk seseorang yang tidak pernah ku panggil namanya

Fajar pukul 02.41 dini hari.
Jendela kamar sengaja kubuka kecil. Angin masuk perlahan, membawa aroma dingin yang khas, menembus ke dalam dada. Ada sesuatu di udara yang membuatku diam lebih lama dari biasanya. Mungkin karena rindu, mungkin karena kenangan yang menolak tidur.

Sudah lama aku tidak menulis tentangmu — seseorang yang hadir begitu tenang, tapi meninggalkan jejak yang tidak mudah hilang. Aku tidak tahu sejak kapan semua ini mulai terasa berbeda. Yang aku tahu, kehadiranmu pernah membuat hari-hariku lebih lembut.

Kamu bukan seseorang yang banyak bicara. Tapi setiap kali berbicara, kalimatmu seperti punya cara sendiri untuk menetap. Kadang sederhana, kadang datar, tapi selalu punya makna di baliknya. Dan entah bagaimana, aku selalu mengingatnya.
Ada ketenangan di caramu menatap, ada keyakinan di caramu menjelaskan sesuatu. Seakan dunia tidak pernah terlalu rumit, asal dijalani dengan kepala dingin dan hati yang jujur.

Lucunya, aku sering merasa seperti anak kecil di hadapanmu — banyak bertanya, banyak bercerita, banyak ingin didengar. Tapi kamu tidak pernah terlihat bosan. Kamu menanggapinya dengan cara yang membuatku belajar: tentang sabar, tentang dewasa, tentang tidak selalu harus mendapat jawaban.

Aku tahu, mungkin perasaanku tidak akan pernah diucapkan dengan lantang. Tidak karena takut, tapi karena aku sudah cukup bahagia hanya dengan mengenalnya dalam diam. Ada rasa ingin dekat, tapi juga sadar bahwa jarak itu perlu — bukan karena tidak sayang, tapi karena justru di situlah letak hormatnya.

Kamu seperti musim yang datang tanpa aba-aba: tidak selalu ada, tapi selalu meninggalkan bekas. Di antara semua hal yang pernah kulalui, kamu tetap jadi bagian yang tenang — yang mengajarkan banyak hal tanpa perlu menjelaskan apa-apa.

Malam ini, aku tidak sedang merindukanmu dengan gelisah. Aku hanya sedang mengenangmu dengan syukur. Karena pernah ada seseorang seperti kamu: yang mengajarkan arti hadir tanpa harus selalu dekat, dan mencintai tanpa perlu memaksa dicintai.

Jadi biarlah tulisan ini menjadi surat yang tidak pernah terkirim.
Untuk seseorang yang tidak pernah kupanggil namanya, tapi selalu kusebut dalam doa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar