Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Selasa, 07 Oktober 2025

Tentang Seseorang yang Mengajarkanku Tenang

Gorden jendela kamar sengaja tak ku tutup, kacanya pun ku biarkan terbuka, mengizinkam udara dingin masuk perlahan. Dingin khas suasana fajar, yang entah kenapa, justru terasa hangat di dada. Di antara hening yang menempel di dinding, ada satu nama yang muncul pelan dalam ingatan. 

Aku lupa kapan tepatnya semua dimulai. Yang aku tahu, sejak hari itu, cara pandangku terhadap banyak hal berubah. Dari beliau, aku belajar tentang ketenangan: cara bicara yang tak pernah tergesa, cara berpikir yang selalu matang, dan cara menempatkan diri yang tak pernah salah waktu.

Ada masa di mana aku terlalu banyak bercerita. Tentang kesibukan, tentang keresahan, tentang hal-hal kecil yang kadang tidak penting. Tapi entah kenapa, dengannya, aku selalu merasa aman untuk menjadi diriku sendiri. Tidak banyak bicara, tapi setiap katanya terasa seperti peneguh: singkat, tapi mengena.
Kalimat “biasa saja” darinya sering kali membuatku berhenti berpikir terlalu jauh. Dan aku menyukai itu — rasa tenang yang lahir dari kesederhanaan.

Aku masih ingat saat pertama kali kami bekerja bersama. Aku kagum, bukan hanya pada caranya memimpin, tapi juga pada caranya mempercayakan sesuatu pada orang lain. Tidak banyak memberi perintah, tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat semuanya berjalan. Ada ketegasan yang tidak keras, ada kelembutan yang tidak lemah.
Mungkin, di situlah letak pesonanya.

Kadang aku ingin tahu lebih banyak tentang hidupnya. Tapi ia selalu punya cara untuk menjaga jarak tanpa terasa menjauh. Dan aku belajar menghormati itu — karena mencintai seseorang sepertinya tidak melulu tentang memiliki, tapi tentang menghargai ruang yang ia butuhkan untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Ada rindu yang tidak bisa dijelaskan, tapi aku biarkan saja. Karena aku tahu, rasa ini bukan untuk disesali. Ia hanya tanda bahwa pernah ada seseorang yang membuatku belajar banyak hal tanpa harus mengucapkannya. Selain itu, mengajarkanku pula bahwa tenang itu bukan berarti tidak merasa, tapi memilih untuk tidak berlebihan. Bahwa cinta bukan tentang menuntut hadir, tapi mensyukuri pernah ada.

Maka malam ini — atau lebih tepatnya, fajar ini — aku menulis bukan untuk memanggil, tapi untuk mengingat. Mengingat setiap percakapan yang pernah ada, setiap tawa kecil di sela kerja, setiap kalimat pendek yang diam-diam menguatkan.
Terima kasih, Sayang (walaupun kamu tidak pernah menyukai aku memanggil dengan sebutan ini), untuk semua hal yang tak pernah kau sadari sudah banyak berarti.

Kalau nanti waktu mempertemukan kita lagi, semoga aku sudah cukup tenang untuk sekadar menyapa tanpa bergetar. Karena kali ini, aku ingin mencintai tanpa memaksa dicintai, dan mengenang tanpa harus berharap kembali. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar