Aku menulis pesan singkat sore itu — sederhana saja: “Kalau ada yang bisa kubantu, jangan sungkan untuk bilang. Aku bisa jadi tempat bercerita, atau tempat apa saja yang kamu perlukan.”
Kalimat itu terasa ringan di jari, tapi entah kenapa terasa berat di hati. Mungkin karena aku tahu, pesan itu tidak sekadar ingin membantu. Aku hanya ingin ada. Sesederhana itu — ada.
Kadang aku tidak tahu alasan sebenarnya kenapa tetap ingin terhubung dengannya. Mungkin karena ketenangannya, mungkin karena caranya menjawab setiap tanya tanpa banyak kata. “Biasa saja. Lumayan. Bagus.” Itu saja, dan aku sudah lega. Aneh, ya? Hanya tiga kata, tapi cukup membuat pikiranku berhenti berisik.
Aku sering jadi pihak yang paling banyak bercerita — tentang hal kecil, tentang kesenangan remeh yang kutemukan di sela hari. Dia mendengarkan, kadang merespon datar, kadang antusias, kadang meledek. Tapi entah kenapa semua bentuk tanggapannya membuatku merasa diterima. Bahkan saat dia memberi nasihat yang menegangkan sekalipun, aku merasa aman.
Lucunya, aku baru sadar — akulah yang selalu dibantu. Dan dia, tak pernah sekalipun mengeluh. Dalam matanya, kesulitanku seperti hal kecil yang mudah diselesaikan. Tapi di mataku, sikapnya selalu besar: menenangkan, menguatkan, dan nyata.
Aku berterima kasih — untuk kehadiran yang tidak banyak bicara, tapi selalu terasa. Untuk tangan yang tidak selalu menggenggam, tapi selalu siap menolong. Untuk diam yang tidak pernah dingin.
Hari bertemu selalu kutunggu. Kadang aku merengek, kadang memilih diam — menunggu diajak, seperti biasanya. Tapi sekarang aku sedang belajar menjadi perempuan yang tenang. Tidak lagi terburu-buru, tidak lagi menuntut, hanya berharap:
jika memang ada waktu, semoga kau sempat meluangkannya tanpa perlu diminta. Karena kejutan sederhana selalu jadi hal kecil yang mampu membuatku tersenyum lama.
Sampai bertemu lagi — di hari yang entah kapan, tapi selalu aku nantikan. Pesan Singkat Untuk yang Tersayang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar