Selasa, 07 Oktober 2025

Cita Sei Sembilang

Sei Sembilang selalu punya cara membuatku diam. Entah karena anginnya yang datang pelan membawa aroma laut, atau karena kenangan yang ikut hanyut bersamanya. Satu hari dua malam disana, aku duduk menatap air yang beriak kecil dari kursi tempat duduk di depan tulisan Sei Sembilang itu, seolah sedang berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat, dengan diriku sendiri, atau mungkin dengan seseorang yang masih kusimpan diam-diam dalam doa.

Aku teringat setiap langkah kecil yang dulu menapaki jalan kayu menuju perahu. Suaranya berderit, tapi justru di situlah tenangnya, seperti hatiku yang tahu, sekalipun rapuh, ia masih sanggup menanggung rindu. Di kejauhan, perahu nelayan satu-satu kembali ke dermaga, membawa hasil tangkapan, juga cerita tentang laut yang tidak pernah sama setiap harinya, yang belum ku dengar langsung. Begitu pula aku, yang pulang membawa cerita tentang hati yang tak pernah benar-benar berhenti menunggu.

Sei Sembilang tidak sekadar tempat. Ia seperti cermin bagi siapa pun yang sedang mencari arah pulang. Di sinilah aku belajar bahwa kesunyian tidak selalu berarti kehilangan. Kadang, diam adalah cara alam menenangkan yang lelah, menuntun yang hilang, dan menumbuhkan yang hampir menyerah. Aku ingin kau tahu, di antara desir angin dan riak air ini, ada rinduku yang belum juga surut.

Jangan hilang dari tempat-tempat yang pernah membuatmu tenang, Sayang. Karena setiap kali aku datang ke sini, aku selalu merasa sedang menemuimu, meski mungkin kau sudah tak lagi di sini. Tapi biarlah. Selama laut masih berbisik, aku akan percaya: ada doa yang tetap berlayar mencarimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar