Sabtu, 25 Oktober 2025

Terima kasih sudah Berusaha

Padahal, aku sudah mengetik pesan ini:
Ay, terima kasih sudah bekerja keras hari ini. Semangat terus...”

Niatnya sederhana, aku hanya ingin memberi dukungan, sedikit hangat di sela lelahnya hari. Aku melihat sendiri, sejak pukul lima sore dia sudah bersiap di tempat, sibuk membuat kopi, mempersiapkan segalanya. Ada rasa kagum yang diam-diam tumbuh, dan aku ingin sekali menunjukkan perhatianku dengan cara yang lembut.

Untung saja, pesan itu belum sempat terkirim.
Kalau saja sudah, mungkin aku akan mempermalukan diriku sendiri.

Siapa sangka, malam inu aku justru pulang dengan hati yang meringis.
Dengan telinga yang masih mengingat jelas satu kata: “bukan.” ketika ditanya tentang orang rumah, berbeda ketika bulan Agustus lalu. 
Hanya satu kata, tapi cukup membuat langkahku berhenti.
Untunglah bukan kata pengusiran, pikirku. Mungkin saja dia risih sebenarnya. 

Meski begitu, aku harus jujur, berada disana membuatku bahagia.
Ada rasa senang yang sederhana, hanya karena bisa melihat wajahnya dari jauh. Kadang, kebahagiaan sesederhana itu saja sudah cukup untuk menenangkan hati yang lelah.

Tapi malam ini aku mulai sadar, sudah saatnya berhenti.
Bukan karena aku menyerah, tapi karena aku harus belajar menerima.

Aku kecewa, tentu saja. Tapi tak apa.
Mungkin ini memang bagian dari caraku belajar mencintai diri sendiri lagi.
Belajar tidak berharap terlalu jauh, belajar membiarkan segala sesuatu berjalan sesuai waktunya.

Terima kasih, ya.
Untuk setiap perasaan yang pernah ada,
untuk setiap senyum yang sempat singgah.
Aku akan menyimpannya baik-baik, bukan sebagai luka,
tapi sebagai pelajaran tentang ketulusan yang pernah aku punya. 

Saatnya Jatuh Cinta pada Diri Sendiri

Ada masa di mana kita sibuk mencintai orang lain.
Sibuk membahagiakan orang lain.
Sampai lupa, ada satu orang yang belum kita bahagiakan: diri sendiri.

Saya juga begitu.
Selalu ingin memberi, sampai lupa menenangkan hati sendiri.
Sampai akhirnya, waktu memaksa saya berhenti.

Satu bulan waktu itu aneh.
Terasa pendek, tapi penuh makna.
Ada tawa, ada harapan, ada juga diam yang panjang.

Saya bertemu seseorang yang membuat saya belajar banyak hal.
Tentang tanggung jawab, tentang kesungguhan, dan tentang cara mencintai yang tidak selalu harus memiliki.

Dia anak pertama.
Tanggung jawabnya besar.
Tiga adik menatap ke arahnya setiap hari.
Dia tidak banyak bicara, tapi tindakannya terasa.
Dia bekerja keras, bahkan untuk hal-hal kecil yang mungkin saya minta tanpa sadar.

Saya tahu itu tidak mudah.
Dan saya menghargainya.
Terima kasih sudah berusaha, bahkan ketika lelah.

Sekarang, saya ingin berkata sederhana saja:
Terima kasih untuk satu bulan penuh makna.
Untuk waktu yang menyentuh hati saya.
Untuk usaha yang tidak pernah saya minta tapi diberikan juga.

Saya belajar sesuatu.
Bahwa cinta tidak selalu berarti bersama.
Kadang, cinta berarti berani melangkah sendirian dengan hati yang tenang.

Saya ingin jatuh cinta lagi.
Kali ini, pada diri sendiri.
Karena dari situ semua akan tumbuh lagi — perlahan, tapi pasti.

See you di waktu terbaik, Ay.
Entah kapan.
Tapi saya percaya, semesta punya caranya sendiri mempertemukan dua orang yang sudah selesai dengan lukanya masing-masing.

Sampai Bertemu Lagi

Sampai aku tak bisa berkata lagi.
Kini saatnya jatuh cinta pada diri sendiri.

Terima kasih untuk satu bulan penuh makna, 
untuk setiap cerita, usaha, dan kehangatan yang sudah menyentuh hatiku.

Sukses selalu, ya.
Mudah-mudahan selalu sehat dan tetap bersemangat menjalani tanggung jawab besar sebagai anak laki-laki pertama, panutan bagi adik-adik.

Terima kasih sudah berusaha sebaik itu, bahkan untuk memenuhi keinginanku waktu itu.
Sampai bertemu lagi di lain waktu, di waktu terbaik, Ay. 

Selasa, 21 Oktober 2025

Tanganku Bergetar Hebat


Tanganku bergetar hebat setelah kejadian itu.
Segelas air yang disuguhkan pun tak bisa kupegang dengan benar.
Lucunya, aku memang sedang lapar atau haus, ditambah kejadian itu buatku terkejut 
Aku butuh tenang. Tapi tubuhku menolak untuk ikut tenang.

Semuanya terjadi begitu cepat. Sekejap saja.
Dan ini bukan pertama kalinya.
Ada rasa cemas yang tak bisa dijelaskan—mungkin terlalu kuat, tapi aku harus tetap terlihat baik-baik saja.
Katanya, orang yang tampak tenang belum tentu tak sedang berperang.

Aku duduk di pinggir jalan setelah ditolong oleh seseorang yang bahkan tak kukenal.
Aku hanya ingat, terakhir kali kulihat baterai ponselku tinggal 3% dari tempat terakhir kami duduk. Lima menit yang lalu.
Dan entah kenapa, lima menit itu terasa seperti lima tahun. Pikiranku cukup kacau. Seoang bapak2 di sana, menginstruksikan aku untuk menelpon rumah aku menelpon adikku. Tapi, tak ada jawaban.
Aku menatap layar, berharap ponselku tidak mati sebelum aku sempat mengirim satu pesan terakhir atau diangkat tlp oleh skapaun. 
Satu kalimat sederhana dikepalaku, klo dijawab aku mah kirim “Jemput aku.” terus menangis. Hahahah. 

Tapi yang datang bukan jawaban, melainkan sunyi.

Biasanya, orang pertama yang kukabari adalah Eka (rekan kerjaku dan Mas Gondrong (Bej) teman-teman dekatnya memanggilnya (tempatku selalu mengeluhkesahkan semua hari-hariku terkahir sebulan yang lalu). 
Tapi kali ini, aku memutuskan untuk tidak menghubungi Eka, sebentar lagi dia menikah, aku harus belajar mandiri mengingat nanti akan banyak keterbatasan dalam komunikasi. 

Aku memuruskan untuk kirim pesan ke Ay dan Bej, namun keduanya diam.
Dan dalam diam itu, aku belajar lagi tentang arti menunggu.
Menunggu jawaban, menunggu kepastian, menunggu seseorang datang dan berkata,
“Sudah, kamu aman sekarang.”

Sementara itu, aku tetap di sana—sendirian tapi sadar.
Ada hal-hal yang tak bisa kita kendalikan, selain cara kita menenangkan diri.
*foto diatas yang nabrak aku. 

Sabtu, 18 Oktober 2025

Berawal dari Ngopi di Gasendra Coffee

Aku tidak pernah menyangka, niat awalnya karena ada project kerja bareng, duduk diskusi dan mengerjakan tugas lalu tentu saja disajikan berbagai minuman kopi bisa berujung jadi malam yang penuh cerita selanjutnya. Terutama tanggal pertengahan bulan ini. Sekayu sedang ramai-ramainya karena Pekan Olahraga Provinsi Sumsel (Porprov). Biasanya aku kesini ingin mencari tempat tenang buat rehat dari hiruk pikuk dan atau menyapa adek-adek disini.

Sore itu aku melangkahkan kaki dengan tenang, homey feel di tengah kota, Gasendra Coffee. Dari luar terlihat sederhana, tapi begitu masuk, aroma kopi langsung menyapa hangat. Ada satu orang barista sibuk di balik meja kayu putih yang selalu tersenyum manis, aku memanggilnya "Ay..", sementara beberapa pengunjung duduk santai di pojok, menatap ke arah jalan dari jendela denga gorden berwarna coklat. 

Aku dibuatkan kopi rekomendasinya, Gaskop. Namanya unik, rasanya lebih unik lagi creamy, sedikit strong, tapi tetap lembut di akhir. Ay-ku bilang, “Kalau mau less milk atau less coffee, bisa request aja, Mbak.”
Rasanya kayak ngobrol sama teman lama yang tahu banget seleraku. Hehe. 

Sambil menunggu, aku memperhatikan sekeliling. Dindingnya dipenuhi hiasan kecil, ada foto, beberapa cangkir, dan rak sederhana yang entah kenapa justru bikin tempat ini terasa hidup.
Ada sesuatu di udara sini, mungkin karena suasananya yang terasa kayak rumah, atau mungkin karena semua orang yang datang seolah punya cerita yang sama, butuh tempat untuk berhenti sebentar.

Dan di tengah hiruk-pikuk Porprov, menurutku Gasendra Coffee jadi ruang singgah yang tepat. Tempat di mana kamu bisa sekadar menyeruput kopi, merenung, atau bahkan berdiskusi ringan tentang apa aja, hidup, mimpi, atau perasaan yang belum sempat tersampaikan.

Kalau kamu lagi di Sekayu, mampirlah.
Rasakan sendiri kopi yang diseduh dengan hati, suasana yang tenang tanpa dibuat-buat, dan siapa tahu, malammu jadi punya cerita baru seperti aku malam itu.

Gasendra Coffee, tempat sederhana yang bikin pulang terasa ndak buru-buru. ☕

Senin, 13 Oktober 2025

Reveal My Inner Conflict

Aku ingin terlihat kuat, tenang, dan selalu bisa mengatur semuanya sendiri.
Tapi diam-diam, aku juga ingin dipeluk, ditenangkan, dan dipercaya tanpa harus menjelaskan apa-apa.

Aku ingin menuntaskan semua hal dengan sempurna — tapi kadang malah takut memulai.
Aku ingin maju, tapi sering terjebak antara tanggung jawab dan kerinduan yang tak sempat disampaikan.

Nilai logika dan perasaan sering bertabrakan dalam diriku.
Aku bisa berpikir rasional, tapi hati ini selalu punya cerita sendiri.

Mungkin jalannya adalah menerima bahwa aku tidak harus memilih salah satu.
Aku boleh tetap kuat tanpa menolak lembutnya rasa,
boleh tetap fokus tanpa mematikan bagian hatiku yang sedang merindu.

Tenang yang Menguatkan dari Desa Keban 1

Desa Keban 1, Sanga Desa, Musi Banyuasin. 
Pagi itu kami berangkat karena akan menyelesaikan suatu tugas. Tapi yang kutemui bukan hanya perjalanan panjang di jalan aspal atau tanah, melainkan rasa tenang di sepanjang langkah. Desa Keban satu bisa dituju dari Desa Keban 2 menggunakan kapal air. Ada tempat penyebrangan sungai disana. Kami menggunakan kendaraan roda dua untuk menunjang aktivitas kami.

Sepanjang perjalanan, kami bicara tentang banyak hal. Tentang arah, tentang masa depan, tentang cara melihat hidup dengan lebih sabar.
Ia bukan banyak bicara, tapi setiap ucapannya seperti menenangkan.

Sampai suatu momen, ku pikir tentu tidak disengaja, kami terjatuh, jembatan naik ke perahu tipis. Papan kayu itu bersambung dan membuat kami oleng. Sebenenanrnya, aku merengek ingin turun si ya, tapi karena aku percaya, akhirnya aku manut dan mengikutinya. 
Jaket dan tanganku kotor, tapi yang paling kuingat, tangan itu dengan tenang membersihkan kotornya tangan dan jaketku, mencucinya dan memastikan aku baik-baik saja.

Momen itu terasa begitu manis. Aku bahkan menulisnya begini: itu adalah perlakuan paling manis dalam sejarah perjalananku pergi-pergi.

Momen itu juga membawaku kembali ke masa kecil  ketika aku menangis karena pelipis kepala tertusuk kayu saat mencoba mengambil jambu air bersama sepupuku.
Ayah datang dengan tenang, menggendongku, membersihkan lukaku, dan berkata pelan,
“sudah, tidak apa-apa.”

Mungkin karena itu, aku selalu merasa tenang jika ada seseorang yang menenangkan tanpa harus banyak bicara.
Rasa aman itu, sederhana… tapi berharga.
Kadang, bukan tindakan besar yang menyentuh hati, tapi cara seseorang membuatmu merasa aman tanpa banyak kata.

Dari perjalanan itu aku belajar,
tenang adalah kekuatan.
Dan sabar… selalu punya cara untuk menguatkan.
Terima kasih ya, Ay. 
Aku selalu cerita sama orang di rumah bahwa klo misalnya aku diajak pergi, aku akan bilang "Aku mau."

Jumat, 10 Oktober 2025

Jalan Yang Masih Aku Cari




Aku pikir dulu, di umur segini aku sudah tahu mau jadi apa.
Sudah tahu ke mana langkah berikutnya.
Sudah tahu siapa yang akan menggenggam tanganku sampai tua.

Tapi ternyata tidak.
Aku masih sering bingung.
Masih sering duduk sendiri sambil menatap kopi yang sudah dingin, bertanya pelan,
“Lalu, aku ini mau jadi apa?”

Dulu aku iri pada orang yang tampak begitu tahu arah hidupnya.
Yang jalannya mantap, yang tujuannya jelas.
Tapi sekarang aku sadar, mungkin mereka pun sama — hanya lebih pandai menyembunyikan tanda tanya.

Aku masih belajar berdamai dengan lambatnya diriku.
Masih belajar tidak panik ketika teman sebaya sudah jauh di depan.
Karena mungkin, jalanku memang berbeda.
Dan berbeda bukan berarti salah.

Tentang menikah,
aku sudah lelah menjawab “belum” setiap kali ditanya.
Bukan karena tidak ingin, tapi karena aku ingin saat tiba waktunya, aku tidak hanya siap di pelaminan — tapi juga di kehidupan.

Kadang aku merasa seperti menulis cerita tanpa tahu ending-nya.
Tapi bukankah itu yang membuat hidup menarik?
Kita tidak pernah tahu bab apa yang akan datang,
tapi kita terus menulisnya, dengan segala tawa dan air mata.

Jadi hari ini, aku memilih untuk tidak buru-buru.
Aku memilih untuk berjalan saja — pelan, tapi sadar.
Aku ingin menikmati setiap detik kebingungan ini, karena mungkin dari sinilah arah itu perlahan muncul.

28 bukan tentang terlambat.
28 adalah tentang berani mengakui bahwa aku masih mencari.
Dan itu pun, sudah cukup.

Selasa, 07 Oktober 2025

Tentang Seseorang yang Mengajarkanku Tenang

Gorden jendela kamar sengaja tak ku tutup, kacanya pun ku biarkan terbuka, mengizinkam udara dingin masuk perlahan. Dingin khas suasana fajar, yang entah kenapa, justru terasa hangat di dada. Di antara hening yang menempel di dinding, ada satu nama yang muncul pelan dalam ingatan. 

Aku lupa kapan tepatnya semua dimulai. Yang aku tahu, sejak hari itu, cara pandangku terhadap banyak hal berubah. Dari beliau, aku belajar tentang ketenangan: cara bicara yang tak pernah tergesa, cara berpikir yang selalu matang, dan cara menempatkan diri yang tak pernah salah waktu.

Ada masa di mana aku terlalu banyak bercerita. Tentang kesibukan, tentang keresahan, tentang hal-hal kecil yang kadang tidak penting. Tapi entah kenapa, dengannya, aku selalu merasa aman untuk menjadi diriku sendiri. Tidak banyak bicara, tapi setiap katanya terasa seperti peneguh: singkat, tapi mengena.
Kalimat “biasa saja” darinya sering kali membuatku berhenti berpikir terlalu jauh. Dan aku menyukai itu — rasa tenang yang lahir dari kesederhanaan.

Aku masih ingat saat pertama kali kami bekerja bersama. Aku kagum, bukan hanya pada caranya memimpin, tapi juga pada caranya mempercayakan sesuatu pada orang lain. Tidak banyak memberi perintah, tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat semuanya berjalan. Ada ketegasan yang tidak keras, ada kelembutan yang tidak lemah.
Mungkin, di situlah letak pesonanya.

Kadang aku ingin tahu lebih banyak tentang hidupnya. Tapi ia selalu punya cara untuk menjaga jarak tanpa terasa menjauh. Dan aku belajar menghormati itu — karena mencintai seseorang sepertinya tidak melulu tentang memiliki, tapi tentang menghargai ruang yang ia butuhkan untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Ada rindu yang tidak bisa dijelaskan, tapi aku biarkan saja. Karena aku tahu, rasa ini bukan untuk disesali. Ia hanya tanda bahwa pernah ada seseorang yang membuatku belajar banyak hal tanpa harus mengucapkannya. Selain itu, mengajarkanku pula bahwa tenang itu bukan berarti tidak merasa, tapi memilih untuk tidak berlebihan. Bahwa cinta bukan tentang menuntut hadir, tapi mensyukuri pernah ada.

Maka malam ini — atau lebih tepatnya, fajar ini — aku menulis bukan untuk memanggil, tapi untuk mengingat. Mengingat setiap percakapan yang pernah ada, setiap tawa kecil di sela kerja, setiap kalimat pendek yang diam-diam menguatkan.
Terima kasih, Sayang (walaupun kamu tidak pernah menyukai aku memanggil dengan sebutan ini), untuk semua hal yang tak pernah kau sadari sudah banyak berarti.

Kalau nanti waktu mempertemukan kita lagi, semoga aku sudah cukup tenang untuk sekadar menyapa tanpa bergetar. Karena kali ini, aku ingin mencintai tanpa memaksa dicintai, dan mengenang tanpa harus berharap kembali. 

untuk seseorang yang tidak pernah ku panggil namanya

Fajar pukul 02.41 dini hari.
Jendela kamar sengaja kubuka kecil. Angin masuk perlahan, membawa aroma dingin yang khas, menembus ke dalam dada. Ada sesuatu di udara yang membuatku diam lebih lama dari biasanya. Mungkin karena rindu, mungkin karena kenangan yang menolak tidur.

Sudah lama aku tidak menulis tentangmu — seseorang yang hadir begitu tenang, tapi meninggalkan jejak yang tidak mudah hilang. Aku tidak tahu sejak kapan semua ini mulai terasa berbeda. Yang aku tahu, kehadiranmu pernah membuat hari-hariku lebih lembut.

Kamu bukan seseorang yang banyak bicara. Tapi setiap kali berbicara, kalimatmu seperti punya cara sendiri untuk menetap. Kadang sederhana, kadang datar, tapi selalu punya makna di baliknya. Dan entah bagaimana, aku selalu mengingatnya.
Ada ketenangan di caramu menatap, ada keyakinan di caramu menjelaskan sesuatu. Seakan dunia tidak pernah terlalu rumit, asal dijalani dengan kepala dingin dan hati yang jujur.

Lucunya, aku sering merasa seperti anak kecil di hadapanmu — banyak bertanya, banyak bercerita, banyak ingin didengar. Tapi kamu tidak pernah terlihat bosan. Kamu menanggapinya dengan cara yang membuatku belajar: tentang sabar, tentang dewasa, tentang tidak selalu harus mendapat jawaban.

Aku tahu, mungkin perasaanku tidak akan pernah diucapkan dengan lantang. Tidak karena takut, tapi karena aku sudah cukup bahagia hanya dengan mengenalnya dalam diam. Ada rasa ingin dekat, tapi juga sadar bahwa jarak itu perlu — bukan karena tidak sayang, tapi karena justru di situlah letak hormatnya.

Kamu seperti musim yang datang tanpa aba-aba: tidak selalu ada, tapi selalu meninggalkan bekas. Di antara semua hal yang pernah kulalui, kamu tetap jadi bagian yang tenang — yang mengajarkan banyak hal tanpa perlu menjelaskan apa-apa.

Malam ini, aku tidak sedang merindukanmu dengan gelisah. Aku hanya sedang mengenangmu dengan syukur. Karena pernah ada seseorang seperti kamu: yang mengajarkan arti hadir tanpa harus selalu dekat, dan mencintai tanpa perlu memaksa dicintai.

Jadi biarlah tulisan ini menjadi surat yang tidak pernah terkirim.
Untuk seseorang yang tidak pernah kupanggil namanya, tapi selalu kusebut dalam doa. 

Pesan yang Tak Pernah Selesai

Aku menulis pesan singkat sore itu — sederhana saja: “Kalau ada yang bisa kubantu, jangan sungkan untuk bilang. Aku bisa jadi tempat bercerita, atau tempat apa saja yang kamu perlukan.”
Kalimat itu terasa ringan di jari, tapi entah kenapa terasa berat di hati. Mungkin karena aku tahu, pesan itu tidak sekadar ingin membantu. Aku hanya ingin ada. Sesederhana itu — ada.

Kadang aku tidak tahu alasan sebenarnya kenapa tetap ingin terhubung dengannya. Mungkin karena ketenangannya, mungkin karena caranya menjawab setiap tanya tanpa banyak kata. “Biasa saja. Lumayan. Bagus.” Itu saja, dan aku sudah lega. Aneh, ya? Hanya tiga kata, tapi cukup membuat pikiranku berhenti berisik.

Aku sering jadi pihak yang paling banyak bercerita — tentang hal kecil, tentang kesenangan remeh yang kutemukan di sela hari. Dia mendengarkan, kadang merespon datar, kadang antusias, kadang meledek. Tapi entah kenapa semua bentuk tanggapannya membuatku merasa diterima. Bahkan saat dia memberi nasihat yang menegangkan sekalipun, aku merasa aman.
Lucunya, aku baru sadar — akulah yang selalu dibantu. Dan dia, tak pernah sekalipun mengeluh. Dalam matanya, kesulitanku seperti hal kecil yang mudah diselesaikan. Tapi di mataku, sikapnya selalu besar: menenangkan, menguatkan, dan nyata.

Aku berterima kasih — untuk kehadiran yang tidak banyak bicara, tapi selalu terasa. Untuk tangan yang tidak selalu menggenggam, tapi selalu siap menolong. Untuk diam yang tidak pernah dingin.

Hari bertemu selalu kutunggu. Kadang aku merengek, kadang memilih diam — menunggu diajak, seperti biasanya. Tapi sekarang aku sedang belajar menjadi perempuan yang tenang. Tidak lagi terburu-buru, tidak lagi menuntut, hanya berharap:
jika memang ada waktu, semoga kau sempat meluangkannya tanpa perlu diminta. Karena kejutan sederhana selalu jadi hal kecil yang mampu membuatku tersenyum lama.

Sampai bertemu lagi — di hari yang entah kapan, tapi selalu aku nantikan. Pesan Singkat Untuk yang Tersayang

Cita Sei Sembilang

Sei Sembilang selalu punya cara membuatku diam. Entah karena anginnya yang datang pelan membawa aroma laut, atau karena kenangan yang ikut hanyut bersamanya. Satu hari dua malam disana, aku duduk menatap air yang beriak kecil dari kursi tempat duduk di depan tulisan Sei Sembilang itu, seolah sedang berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat, dengan diriku sendiri, atau mungkin dengan seseorang yang masih kusimpan diam-diam dalam doa.

Aku teringat setiap langkah kecil yang dulu menapaki jalan kayu menuju perahu. Suaranya berderit, tapi justru di situlah tenangnya, seperti hatiku yang tahu, sekalipun rapuh, ia masih sanggup menanggung rindu. Di kejauhan, perahu nelayan satu-satu kembali ke dermaga, membawa hasil tangkapan, juga cerita tentang laut yang tidak pernah sama setiap harinya, yang belum ku dengar langsung. Begitu pula aku, yang pulang membawa cerita tentang hati yang tak pernah benar-benar berhenti menunggu.

Sei Sembilang tidak sekadar tempat. Ia seperti cermin bagi siapa pun yang sedang mencari arah pulang. Di sinilah aku belajar bahwa kesunyian tidak selalu berarti kehilangan. Kadang, diam adalah cara alam menenangkan yang lelah, menuntun yang hilang, dan menumbuhkan yang hampir menyerah. Aku ingin kau tahu, di antara desir angin dan riak air ini, ada rinduku yang belum juga surut.

Jangan hilang dari tempat-tempat yang pernah membuatmu tenang, Sayang. Karena setiap kali aku datang ke sini, aku selalu merasa sedang menemuimu, meski mungkin kau sudah tak lagi di sini. Tapi biarlah. Selama laut masih berbisik, aku akan percaya: ada doa yang tetap berlayar mencarimu.

Senin, 06 Oktober 2025

Mimpi Waktu Kecil: Kerja Sambil Jalan-Jalan


Sejak kecil aku punya mimpi: kerja sambil jalan-jalan.
Lucunya, mimpi itu mungkin lahir dari rasa sedih.

Aku masih ingat, waktu kelas empat SD.
Emak dan Abah pindah ke Sekayu lebih dulu.
Aku ditinggal, karena masih harus ikut ulangan dan nunggu rapor.

Setiap pagi aku menangis.
Bukan karena nilai ulangan, tapi karena tidak pernah jauh dari orang tua.
Rasanya rumah tiba-tiba jadi sunyi, padahal suara ayam dan tv dengan 'aki' masih tetap sama.

Mungkin dari situlah muncul keinginan itu:
Aku ingin bisa kerja sambil pergi-pergi.
Biar kalau jauh, hatinya tidak terlalu sedih.

Begitu pindah ke Sekayu, aku terkejut.
Orang-orangnya pintar-pintar.
Aku jadi semangat. Tidak pernah absen sekolah.
Mungkin karena ingin membuktikan: aku juga bisa.

Sekarang aku masih berjuang menyelesaikan S2.
Harusnya bisa cepat. Tapi kadang rasa malas datang seperti tamu tak diundang.
Ya, sedikit-sedikit malas sekolah, tapi masih cinta belajar.

Ayo, ayo. Semangat lagi.
Siapa tahu, setelah ini ada jalan beasiswa ke tahap berikutnya.
Dan mimpi kecil itu — kerja sambil jalan-jalan —
masih terus aku bawa sampai hari ini.

Karena ternyata, bukan cuma jalan yang penting.
Tapi cerita dan perjuangan di setiap langkahnya.

Kamis, 02 Oktober 2025

Terima Kasih Sei Sembilang

Pernah nggak kamu merasa satu gigitan makanan bisa menyimpan seluruh cerita sebuah tempat?
Itulah yang aku rasakan ketika mencicipi pempek udang berwarna merah muda di Sei Sembilang.

Pagi itu, laut masih tenang, seperti baru bangun tidur. Cahaya matahari menyemburat malu-malu dari ufuk timur, memantul di permukaan air. Beberapa dari rekan kami, sibuk mencari umang-umang (hewan kecil yang jadi mainan tapi harus dibeli kalo di kota), ada juga yang berfoto agar momen tidak hilang.

Sesi foto terus berlanjut, sementara perut mulai protes, dan akhirnya beberapa diantara kami menyudahi kesibukan potret dan menyurusi jalan setapak desa, sepertinya lebih dari 5 menit, kami menemukan pempek udang khas Sembilang aku menyebutnya, masih di goreng, tak langsung berhenti, kami lanjutkan perjalanan rencananya cari yang lain juga, namun nihil. Akhirnya, beberaa makanan lain dibawa pulang termasuk pempek udang. Sesampainya di camp, pempek dihidangkan di dalam plastik, aku perlahan memegang satu, gigitan pertama langsung terasa berbeda---gurih, segar, dengan aroma laut yang begitu nyata. Bagiku yang pecinta udang, ini bukan sekadar sarapan, tapi pengalaman.

Aku jadi teringat, betapa sering kita lupa mensyukuri hal-hal sederhana. Anak-anak di sini saja tetap masih ada yang datang nobar film meski hujan cukup deras, berbekal semangat menurutku. Mereka bercita-cita jadi dokter, TNI, pilot, atau guru. Sementara kita, sering kali menunda mimpi hanya karena alasan kecil.

Sei Sembilang mengajarkanku bahwa rasa bukan hanya soal lidah, tapi juga tentang hati.
Bahwa perjalanan bukan sekadar sampai, tapi menyimpan cerita.
Dan bahwa setiap tempat punya pelajaran, kalau kita mau berhenti sejenak untuk merasakannya.

Terima kasih, Sei Sembilang.
Terima kasih atas kesempatan indah ini---untuk singgah, merasakan, belajar, dan pulang dengan hati yang lebih penuh syukur.

Kalau suatu hari kamu sampai di Sembilang, jangan cuma dengar cerita yaaa... Rasakan sendiri pempek udang berwarna merah muda itu, lihat senyum anak-anaknya, dan biarkan hatimu yang menyimpan.

Yang Tidak Pernah Terucap

Aku sebenarnya ingin sekali bilang betapa berharganya kamu untuk aku.
Tapi aku tidak pernah menemukan caranya.
Aku hanya berharap, kamu bisa melihatnya dari usaha-usaha kecil yang aku lakukan.

Aku lupa pada diriku sendiri.
Aku hanya ingat kamu.
Ternyata itu tidak cukup.

Lebih parah lagi: semuanya berbalik.
Saat aku menjadikan segalanya tentang kamu, aku kehilangan diriku sendiri.
Aku melekat padamu seakan-akan kita memang sudah milik satu sama lain.
Tidak ada ruang untuk mengambil diriku kembali.

Awalnya indah.
Kamu juga suka dengan cara aku mencintai.
Tapi tiba-tiba hilang.
Orang-orang datang. Mereka mengisi kepalamu dengan banyak hal tentang aku.
Aku tidak sanggup membersihkannya.

Jadi ya, akhirnya aku kalah.
Aku kehilanganmu karena orang lain.

Padahal, aku ingin sekali bilang: orang-orang itu tidak akan ada saat kamu benar-benar butuh.

Tapi aku diam.
Aku hanya menuliskannya di sini.

Kepalaku sakit sekali malam ini.
Rasa kangen ini berat.
Lebih berat daripada kehilangan itu sendiri.

Sei Sembilang #Bagian2

Jam menunjukkan 6.29 pagi. Erin dan Mega sudah turun dari rumah tempat tidur kami semalam. Beberapa dari kami masih menggeliat, tapi mereka sudah melangkah ke pantai. Katanya mau menikmati sunrise. Kami semua akhirnya ikut menyusul.

Semalam kami nobar film plastik bersama adik-adik di rumah Bu Guru Monik. Walau hujan, mereka tetap datang, terlihat antusias. Payah jg kalau dibandingkan dengan kita-kita yang sering malas keluar rumah hanya karena gerimis kecil. Hehe. 

Pagi itu, laut seperti baru bangun tidur. Tenang, dengan garis cahaya matahari yang muncul malu-malu dari ufuk timur. Beberapa dari kami sibuk mencari umang2. Ada jg yg sibuk berfoto, dg berbagai latae belakang yg maasyaa allah. 

Perut mulai protes. Kami pun mencari sarapan. Husni bilang, “Semoga masih ada sarapan. Karena biasanya nelayan sudah melaut sejak pagi2 sekali.” Allhamdulilah, masih ada. Pempek udang khas Sembilang, warnanya merah muda.

Gigitan pertama langsung membuatku terdiam. Gurih, lembut, ada rasa laut yg begitu segar. Apalagi bagiku yang memang suka sekali udang,rasanya seperti menemukan versi terbaik pempek. Aku sempat senyum-senyum sendiri, “Ah, kalau ada pempek terenak yang pernah aku makan, mungkin ini salah satunya.” Sayang Erin alergi. 

Aku sempat ngobrol sebentar dengan ibu penjualnya. Katanya, sehari bisa dapat penghasilan sampai sejuta. Terdengar besar, tapi jangan salah. Kebutuhan pokok di sini juga mahal. Laut memang memberi kehidupan, tapi jg menuntut perjuangan.

Siang kami pergi ke sekolah. Bertemu adik-adik yg penuh semangat dan mendengar cita-cita mereka. Ada yg ingin jadi dokter, guru, pilot sampai jadi TNI.  Allhamdulilllah. 

Sore harinya, aku bermain dengan adik-adik, sebenarnya kami akan pulang, tp gelombang sangat besar, jadi kami tunggu. Permainan sederhana, tapi seru, aku menyebutnya jer-jer. lalu main ulat-ulat panjang. Mereka berlari-lari, tertawa, saling tangkap. Aku ikut senang. Hati terasa bersih sekali.

Terima kasih, Sei Sembilang. Akhirnya aku sampai juga di tempat yang sejak lama sering sekali kudengar. Kini, bukan hanya telinga yang tahu, tapi hati yang menyimpan.
Sampai ketemu lagi....

Rabu, 01 Oktober 2025

Jejak Pertama di Sembilang: Catatan Perjalanan ke Rumah TN

Hari itu, aku akhirnya sampai di Sembilang. Rasanya seperti menapakkan kaki di halaman belakang rumah sendiri, padahal baru pertama kali datang.

Ada satu bangunan yang langsung menarik perhatianku, Rumah Taman Nasional, atau biasa dipanggil “Rumah TN” oleh warga setempat. Bangunan itu berdiri sederhana tapi mencolok, semacam penanda bahwa ada kehidupan dan ada cerita yang terjaga di tengah kawasan pesisir ini. Katanya, bangunan ini jadi tempat singgah bagi siapa saja yang datang untuk belajar dan menjaga alam.

Aku sempat memotret teman-teman di depannya. Sayang, waktu terlalu sempit untukku ikut berpose bareng. Dalam hatiku berkata, “lain kali, aku harus foto juga.” Akhirnya, aku memilih spot lain, berpose dengan latar belakang Rumah TN, walau puun dengan perasaan malu-malu.

Sembilang punya suasana yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Seolah waktu berjalan lebih pelan di sini. Tak banyak suara kendaraan, hanya bunyi ombak dan angin laut yang menusuk dingin tapi menenangkan.

Aku masih ingat jelas, satu momen yang sangat tak terduga, seekor babi hutan lewat begitu saja di depan mata kamki, bahkan di sekitar rumah dan sekolah. Awalnya kami terkaget-kaget, beberapa sampai tak percaya hingga akhirnya mengeluarkan kamera untuk mengabadikan momennya, tapi itulah juga bukti nyata bahwa alam di sini begitu dekat, begitu hidup berdampingan dengan manusia.

Kalau musimnya tiba, katanya ada udang “petak” yang jadi primadona. Membayangkannya saja membuatku ingin kembali. Ditambah keramahan warga pesisir, juga ikan laut segar yang luar biasa nikmat, lengkap sudah alasan untuk balik lagi ke sini.

Aku kembali dengan satu harapan: semoga alam Sembilang tetap terjaga, agar anak cucu kelak masih bisa merasakan keindahan dan ketenangan yang sama.

Karena bagiku, perjalanan bukan hanya soal destinasi.
Perjalanan adalah rasa syukur yang tumbuh dari laut, dari udara, dari setiap langkah kecil di tanah yang lestari.  Sampai jumpa lagi!