Tentang rindu yang tenang, cinta yang tidak mengejar, dan belajar merasa aman sendiri
Ada satu malam ketika aku tidak mengirim pesan apa pun. Tidak menanyakan kabar. Tidak memastikan dibaca. Tidak menunggu balasan.
Aku hanya menulis. Bukan untuk dia. Tapiuntuk hatiku sendiri. Aku menulis sebuah surat, seolah-olah dia yang menulisnya untukku. Aneh ya? Tapi justru di situ aku merasa paling jujur.
Bukan membayangkan dipilih. Bukan membayangkan dilamar. Bukan membayangkan akhir bahagia. Aku hanya membayangkan satu hal sederhana tentang dicintai dengan tenang.
Dulu, kalau rindu datang, tubuhku panik. Rindu terasa seperti alarm kebakaran. Harus dihubungi. Harus dijawab. Harus dipastikan. Kalau tidak, rasanya seperti ditinggalkan. Sekarang tidak lagi. Rindu masih datang. Tapi ia duduk di sampingku, bukan mendorong dari belakang.
Ia berkata pelan, “Aku kangen… tapi aku masih utuh.”
Maka malam itu aku menulis surat. Isinya sederhana. Tentang “maaf kalau cuma read”; “biar adek tenang, abang kabarin”; “nanti kita camping; “kerja dulu ya, biar masa depan ada” dan “abang bangga sama adek”.
Tidak ada kalimat dramatis. Tidak ada janji besar.
Tidak ada “aku nggak bisa hidup tanpamu”. Hanya hal-hal kecil. Dan justru di situ aku sadar sesuatu. Ternyata yang kuinginkan bukan cinta yang heboh. Tapi cinta yang hadir.
Aku tidak butuh dikejar. Aku hanya ingin diingat. Aku tidak butuh kepastian besar. Aku hanya ingin dikabari. Aku tidak butuh kata “selamanya”. Aku hanya ingin ditemani hari demi hari. Makan bareng. Pergi kebun. Nanya, “mau nasi atau lontong?” Hal-hal kecil.
Yang membuat bahu turun pelan. Yang membuat napas panjang. Yang membuat tubuh tidak siaga. Ternyata begitulah rasa aman bekerja. Sunyi. Tapi nyata.
Menulis surat itu membuatku mengerti satu hal penting bawa kadang kita tidak sedang menunggu orang lain berubah. Kita hanya sedang belajar menamai kebutuhan kita sendiri. Bukan tentang “tolong cintai aku.” Tapi tentang “kalau kamu mencintaiku, beginilah caranya.”
Tanpa memaksa. Tanpa mengejar. Tanpa mengemis. Hanya jernih. Dan anehnya, setelah menulis itu, aku tidak merasa makin melekat. Aku justru lega. Seperti setelah menangis kecil. Seperti setelah doa panjang. Seperti berkata pada diri sendiri “Aku tahu apa yang pantas untukku.”
Mungkin cinta yang dewasa memang seperti ini. Bukan tentang memiliki. Tapi tentang kapasitas. Kalau dua orang sama-sama siap, mereka berjalan berdampingan. Kalau belum, ya tidak apa-apa. Tidak perlu dikejar. Tidak perlu dipaksa.
Karena cinta yang dipaksa hanya membuat kita kehilangan diri sendiri. Dan aku sudah terlalu jauh berjalan untuk kehilangan diriku lagi.
Jadi sekarang, kalau rindu datang, aku tidak lagi buru-buru mengirim pesan. Kadang aku hanya menulis. Di jurnal. Di doa. Di hati. Dan berkata pelan:
“Aku mencintaimu. Tapi aku juga tetap utuh tanpamu.”
Dan entah kenapa, kalimat itu terasa seperti pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar