Aku mulai memahami bahwa mencintai tidak selalu berarti mendekat. Kadang justru berarti menahan diri, agar tidak menyeret siapa pun keluar dari ritmenya sendiri.
Aku belajar bahwa kesadaran tidak bisa dipercepat, dan kejujuran tidak bisa dipaksa. Yang bisa kulakukan hanyalah hadir dengan jujur, menyebutkan apa yang kulihat, dan membiarkan orang lain bertemu dirinya sendiri atau tidak.
Dulu aku mengira kepemimpinan adalah memberi arah.
Sekarang aku tahu, dalam relasi, kepemimpinan sering kali berarti tidak mengarahkan, tapi tetap berdiri tegak sebagai diri sendiri.
Jika seseorang menjauh untuk tenang, itu haknya. Tugasku bukan mengejarnya, melainkan memastikan aku tidak meninggalkan diriku sendiri dalam proses menunggu.
Aku tidak berhenti mencintai. Aku hanya berhenti mengorbankan kedaulatanku demi kemungkinan yang belum tentu siap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar