Dulu, bagiku, lintasan lari adalah tempat yang menakutkan.
Bukan karena aku tidak suka berolahraga, melainkan karena hamparan lintasan berwarna merah bata itu selalu berhasil membangunkan sesuatu di dalam diriku, inner child yang pernah bermimpi sangat keras untuk menjadi seorang atlet lari, namun mimpinya tidak pernah kesampaian. Setiap kali melihat lintasan, rasanya seperti melihat monumen kegagalanku sendiri. Ada ego yang terluka, ada sedih yang diam-diam menyelinap.
Tapi belakangan ini, setelah melewati fase kehidupan yang cukup menguras energi kognitif dan emosional, belajar menegakkan batasan diri, melepaskan ekspektasi pada orang lain, dan menata ulang kedaulatan batinku, aku menyadari satu hal yang luar biasa bahwa tubuh kita itu sangat cerdas.
Ketika pikiran (Prefrontal Cortex) kelelahan, tubuh tahu persis apa yang ia butuhkan untuk menyembuhkan dirinya sendiri (Allostasis). Tubuhku meminta rempah-rempah yang menghangatkan, rebusan cengkeh, kayu manis, dan jahe untuk menenangkan sistem saraf yang terus-menerus siaga. Dan entah dorongan dari mana, tubuhku memintaku untuk kembali menjejakkan kaki di lintasan lari di Palembang.
Kali ini, aku tidak datang untuk berlari kencang mengejar ambisi. Aku datang hanya untuk berjalan kaki. Kanan, kiri, kanan, kiri.
Dalam ilmu neurosains, ritme jalan kaki ini ternyata adalah bentuk penyembuhan somatik (Somatic Healing). Gerakan konstan ini memberi sinyal rasa "aman" ke pusat kecemasan di otak kita. Dan benarlah keajaiban itu terjadi.
Sambil melangkah, mataku menatap para atlet muda yang sedang berlari di sekelilingku. Ajaibnya, rasa takut dan sesak yang dulu selalu muncul, kini hilang tak berbekas. Alih-alih merasa iri atau meratapi mimpiku yang tak terwujud, hatiku justru terasa sangat hangat. Aku tersenyum melihat energi kehidupan mereka. Aku ikut merayakan semangat mereka.
Tanpa kusadari, aku telah bertransisi. Aku melepaskan egoku yang masih meratapi masa lalu (Ego), dan mulai merengkuh kebahagiaan dari melihat kehidupan yang terus bergerak di sekitarku (Eco). Inner child-ku tidak lagi menangis minta diselamatkan; ia sudah duduk tenang menemani langkahku, ikut tersenyum melihat dunia yang ternyata begitu luas dan aman.
Terkadang, penyembuhan tidak datang dari analisis pikiran yang rumit, melainkan dari keberanian kita untuk membiarkan tubuh mengambil alih. Dari segelas air rebusan jahe yang menenangkan perut, hingga langkah-langkah kaki sederhana yang menjahit kembali luka-luka lama.
Bagi kamu yang saat ini sedang merasa kelelahan, cemas, atau sedang menghindari tempat-tempat yang mengingatkanmu pada luka masa lalu: berhentilah sejenak. Jangan dilawan. Dengarkan tubuhmu (Just Listen). Mungkin, yang kamu butuhkan saat ini bukanlah jawaban atau solusi yang sempurna.
Mungkin, yang kamu butuhkan hanyalah berjalan kaki, meresapi udara sore, dan membiarkan tubuhmu menuntunmu pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar