Sebuah Catatan tentang Cinta, Kecemasan, dan Kedaulatan Batin
Orang yang selalu bikin penasaran memang selalu menarik, bukan?
Sebagai seseorang yang menyukai tantangan dan memiliki jiwa achiever (pejuang pencapaian), aku pernah terjebak dalam sebuah ilusi manis, aku mengira dia adalah sebuah teka-teki yang bisa kupecahkan, dan luka yang bisa kuselamatkan. Awalnya, semua terasa dinamis. Ketidakpastiannya membuat segala hal tentangnya terasa misterius. Kadang dia hadir membawa kehangatan yang luar biasa, namun tak jarang dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Di situlah sistem sarafku mulai dibajak tanpa aku sadari.
Aku baru 'ngeh', pola tarik-ulur ini bekerja persis seperti bermain judi di mesin slot. Karena perilakunya tidak terprediksi, otakku terus-menerus mencari cara untuk mendapatkan "hadiah" berupa kabar darinya. Ketika ada satu pesan masuk, rasanya sumringah dan happy luar biasa (banjir dopamin). Tapi saat dia kembali menjauh, aku kehilangan arah. Otakku berputar mencari cara, apa yang harus kulakukan agar dia kembali menatapku? Tanpa sadar, aku terjerumus semakin dalam. Aku mengabaikan prinsip dan batasan diriku sendiri demi mendapatkan "remah-remah" kehadirannya. Saat didiamkan, rasanya dada ini sesak luar biasa, sampai bisa menangis dan mempertanyakan harga diri "Kenapa? Kenapa diam saja? Apa salahku?" Kadang, di tengah malam aku terbangun hanya untuk mengirim pesan impulsif karena saat itu, rasanya seolah dia adalah pusat duniaku. Jiwaku tertekan, banyak mimpiku yang tertunda.
Hingga akhirnya, tubuhku mengambil alih.
Dalam proses refleksi berbulan-bulan, melewati fase denial, menangis, dan merasa sendirian, aku belajar satu hal penting bahwa tubuh itu cerdas. Aku mulai melunak. Aku berhenti memaksa keadaan dan mulai diam mendengarkan sinyal tubuhku. Aku mulai mengakui perasaanku dengan jujur, "Oh, ini yang aku mau. Oh, ternyata aku lelah. Oh, aku sedang sedih." Mengakui kelelahan itu membuatku menangis sejadi-jadinya, tapi di saat yang sama, ia membebaskanku.
Dari titik nol itu, aku mulai menengok ke dalam. Aku belajar tentang Attachment Style dan menyadari bahwa dalam relasi romantis, sisi Anxious (cemas)-ku menyala terang benderang karena sedang berhadapan dengan seorang Avoidant (penghindar). Sikap dinginnya yang tiba-tiba bukanlah karena aku kurang berharga, melainkan cara sistem sarafnya melindungi diri dari kedekatan emosional. Ia tidak sedang menghukumku; ia sedang mengaktifkan inner child-ku yang ketakutan akan pengabaian.
Berbekal kesadaran itu dan insight luar biasa dari lingkaran pertemananku, aku memutuskan untuk berhenti menjadikan dia sebagai "proyek". Aku memutar arah. Aku mulai melakukan prototyping (uji coba eksperimen) bukan untuk mengubahnya, melainkan untuk diriku sendiri.
Aku belajar melepaskan hasil. Aku belajar menjaga konsistensiku sendiri. Aku belajar hadir dan memberi tanpa berharap validasi balasannya.
Baru beberapa hari mempraktikkan kedaulatan batin ini, keajaiban itu terjadi. Rasanya seperti kembali pulang ke 'diri sendiri'. Aku menjadi "bodo amat" (dalam artian yang paling sehat) terhadap reaksinya. Ketika dia membalas singkat, rasanya sungguh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi dada yang sesak. Aku merasa aman. Aku merasa lega. Aku sadar bahwa aku tidak sendirian, aku memiliki support system yang tangkinya penuh dengan cinta untukku.
Aku masih menyayanginya? Ya. Tapi hari ini, mindset-ku telah berubah total. Dia bukan lagi pusat kehidupanku. Pusat kehidupanku adalah diriku sendiri, impianku, dan kedaulatan batinku.
Bagi siapa pun di luar sana yang sedang kelelahan mencintai seorang avoidant dan terus-menerus menyalahkan diri sendiri: peluk erat dirimu. Ini bukan salahmu. Berhentilah mencoba memutar mesin slot itu. Mundurlah selangkah, dengarkan tubuhmu yang kelelahan, dan temukan jalan pulang ke katedral batinmu sendiri.
Karena cinta yang paling aman, adalah cinta yang tidak memaksamu kehilangan dirimu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar