Pages

Pages - Menu

Pages - Menu

Sabtu, 11 April 2026

Catatan Kecil Tentang Cinta, Takut dan Keutuhan Diri


Aku pernah mengira aku hanya seseorang yang cenderung “mengejar”. Ingin dekat, ingin jelas, ingin diyakinkan. Tapi belakangan aku mulai menyadari sesuatu yang lebih halus bahwa di dalam diriku juga ada bagian yang diam-diam mundur. Bukan karena tidak ingin, tapi karena takut terlalu dekat. Takut terlihat. Takut tidak diterima. Takut kehilangan kendali atas diriku sendiri.

Lucunya, kedua bagian itu hidup bersamaan. Yang satu ingin memeluk, yang satu lagi ingin menjaga jarak. Dan selama ini, aku pikir itu adalah kelemahan.

Sampai akhirnya aku berada di satu titik kecil yang sederhana, aku mulai berani. Bukan berani yang besar dan dramatis, tapi berani yang sangat manusiawi. Berani bilang, “Abang…”

Berani memanggil, “syg…”

Berani menunjukkan rasa tanpa memastikan akan dibalas dengan cara yang sama.

Dan aku mulai memahami… Ternyata keberanian bukan tentang memastikan semuanya aman, tapi tetap memilih hadir meskipun belum sepenuhnya pasti.

Aku masih punya bagian yang freeze. Masih ada momen di mana aku tiba-tiba diam, menarik diri, atau bingung dengan perasaanku sendiri. Tapi sekarang aku tidak lagi melawannya. Aku melihatnya. Aku memahaminya. Aku membawanya ikut berjalan.

Cinta, ternyata, bukan tentang menjadi versi paling siap. Tapi tentang membawa seluruh bagian diri, yang ingin dekat dan yang takut dekat dalam satu ruang yang sama. Tanpa memaksa. Tanpa menghilangkan salah satunya.

Dan mungkin… Ini bukan tentang “dia adalah orangnya” atau bukan. Tapi tentang aku yang akhirnya bisa berkata “Aku tetap aku. Dan aku berani hadir.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar